Minggu, 24 April 2011
Terapi Minum Air Putih Kurangi Kerutan Wajah
Timbulnya kerutan di wajah tampaknya merupakan hal yang paling menakutkan bagi para wanita. Namun Anda tidak perlu khawatir, ternyata kerutan di wajah dapat dicegah serta berkurang hanya dengan meminum air putih.
Air putih memiliki banyak manfaat baik kesehatan dan juga kecantikan kulit. Seperti dikutip pada Times of India, dokter dan ahli ilmu gizi menyatakan bahwa meminum sedikitnya delapan gelas air putih sehari dapat mempertahankan keremajaan kulit wajah. Meminum air dengan jumlah besar juga dipercaya dapat melembabkan kulit juga menjauhkan jerawat serta kerutan pada wajah.
Pada percobaan placebo-controlled, beberapa wanita diminta meminum air putih sebanyak setengah liter selama delapan minggu tanpa mengubah gaya hidupnya. Beberapa dari mereka meminum air biasa dan sisanya meminum air mineral willow, air mineral alami yang bersumber dari danau di daerah Inggris yang mengandung salisin (anti inflamasi atau peradangan yang dihasilkan dari kulit pohon willow) yang berfungsi sebagai aspirin.
Tujuan dari percobaan tersebut adalah melihat berapa banyak kerutan yang berkurang dan hilang, membandingkan tekstur kulit sebelum dan sesudah percobaan dan melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh matahari.
Hasilnya setelah percobaan ternyata sangat mengejutkan. 19 persen dari kerutan yang dimiliki wanita yang meminum air mineral biasa berkurang. Sedangkang 24 persen dari kerutan yang berkurang terjadi pada wanita yang meminum air mineral Willow.
Sengketa Pulau Berhala Memanas Lagi
JAMBI - Sengketa mengenai status Pulau Berhala kembali memanas setelah Mendagri Gamawan Fauzi, menyatakan bahwa sebaiknya Pulau Berhala diserahkan pengelolaannya ke Provinsi Jambi.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Abdul Halim saat dihubungi Tribun, Sabtu (23/4) mengatakan,,masih belum tahu terkait pernyataan mendagri, namun ditegaskannya bahwa Pulau Berhala secara kultur sejarah dan geografis merupakan bagian dari Jambi.
"Memang kita sama-sama NKRI, tapi ya harus mengerti lah, secara geografis dan sejarahnya kan lebih dekat ke kita (Jambi - red)," ujar Abdul.
Abdul mengharapkan penyelesaian sengketa antara Jambi dengan Kepri diselesaikan secara musyawarah dan komunikasi. "Kalau ada kesepakatan antara kedua provinsi sebenarnya nggak ada masalah," tambahnya.
Pihak DPRD Provinsi Jambi masih belum mengadakan rapat mengenai masalah ini. Namun Abdul mengatakan bahwa pihaknya akan menyikapi anjuran mendagri tersebut bersama pemerintah provinsi dan pemuka masyarakat.
"Kita bukan ngoyo meminta, tetapi mengikuti prosedur," jelas Abdul. Dirinya menambahkan bahwa ada kemungkinan Pulau Berhala dipersengketakan karena potensi wisatanya, namun menurutnya, pemerintah Jambi lebih cenderung kepada faktor sejarahnya.
Sebab, di pulau tersebut terdapat makam Datuk Paduko Berhalo, yang merupakan orangtua dari Rang Kayo Hitam, Raja Jambi.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Abdul Halim saat dihubungi Tribun, Sabtu (23/4) mengatakan,,masih belum tahu terkait pernyataan mendagri, namun ditegaskannya bahwa Pulau Berhala secara kultur sejarah dan geografis merupakan bagian dari Jambi.
"Memang kita sama-sama NKRI, tapi ya harus mengerti lah, secara geografis dan sejarahnya kan lebih dekat ke kita (Jambi - red)," ujar Abdul.
Abdul mengharapkan penyelesaian sengketa antara Jambi dengan Kepri diselesaikan secara musyawarah dan komunikasi. "Kalau ada kesepakatan antara kedua provinsi sebenarnya nggak ada masalah," tambahnya.
Pihak DPRD Provinsi Jambi masih belum mengadakan rapat mengenai masalah ini. Namun Abdul mengatakan bahwa pihaknya akan menyikapi anjuran mendagri tersebut bersama pemerintah provinsi dan pemuka masyarakat.
"Kita bukan ngoyo meminta, tetapi mengikuti prosedur," jelas Abdul. Dirinya menambahkan bahwa ada kemungkinan Pulau Berhala dipersengketakan karena potensi wisatanya, namun menurutnya, pemerintah Jambi lebih cenderung kepada faktor sejarahnya.
Sebab, di pulau tersebut terdapat makam Datuk Paduko Berhalo, yang merupakan orangtua dari Rang Kayo Hitam, Raja Jambi.
Warga Mulai Antisipasi Jika Terjadi Banjir
SUNGAIPENUH – Warga Kabupaten Kerinci yang bermukim disejumlah kawasan rawan banjir, mulai memindahkan barang-barang mereka ketempat yang lebih tinggi.
Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi jika sewaktu-waktu banjir merendam rumah mereka.
Warga Kecamatan Sitinjau Laut, Eli, saat dikonfirmasi mengakui hal tersebut. Ia mengatakan, biasanya setiap datang musim hujan seperti yang terjadi di Kabupaten Kerinci saat sekarang ini, rumahnya selalu digenangi air.
“Sudah beberapa pekan terakhir hujan terus turun, sehingga debit air sungai
mengalami peningkatan. Saat ini saja sejumlah jalan sudah mulai terendam, jika
hujan tetap turun maka air akan masuk kerumah,” ujarnya, saat dikonfirmasi
tribunjambi.com, Minggu (24/4) kemarin.
Menurut Eli, karena tidak ingin barang-barangnya direndam banjir seperti
tahun-tahun sebelumnya, ia pun mulai memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. "Barang-barang elektronik dan benda berharga lainnya, sudah saya pindahkan ke lantai dua,” katanya.
12 Kecamatan di Kerinci Rawan Banjir
SUNGAIPENUH - Turunnya hujan deras di Kabupaten Kerinci, dan sekitarnya beberapa pekan terakhir, menyebabkan 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci, rawan banjir dan tanah longsor.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kerinci, Basyarin,
saat dikonfirmasi mengakui hal tersebut. Ia mengatakan, semua kecamatan di Kerinci, berpotensi terendam banjir dan tanah longsor.
"Ya, semua kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci memiliki potensi terjadinya banjir dan tanah longsor. Untuk itu kita minta kepada warga agar selalu waspada," ujar Basyarin, saat dikonfirmasi Tribun, Minggu (24/4) kemarin.
Menurutnya, kerawanan yang ada di masing-masing daerah memiliki perberbedaan. Misalnya disepanjang Sungai Batang Merao, mulai dari Kecamatan Siulak, Kecamatan Air Hangat, Kecamatan Depati Tujuh, dan Air Hangat Timut, rawan terjadinya banjir.
"Sementara dikawasan pinggiran, seperti di Kecamatan Danau Kerinci, Kecamatan Keliling Danau, rawan terjadinya banjir yang disertai dengan longsor. Terjadinya kerawanan tersebut, salah satunya disebabkan karena terjadinya pendangkalan sungai," katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kerinci, Basyarin,
saat dikonfirmasi mengakui hal tersebut. Ia mengatakan, semua kecamatan di Kerinci, berpotensi terendam banjir dan tanah longsor.
"Ya, semua kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci memiliki potensi terjadinya banjir dan tanah longsor. Untuk itu kita minta kepada warga agar selalu waspada," ujar Basyarin, saat dikonfirmasi Tribun, Minggu (24/4) kemarin.
Menurutnya, kerawanan yang ada di masing-masing daerah memiliki perberbedaan. Misalnya disepanjang Sungai Batang Merao, mulai dari Kecamatan Siulak, Kecamatan Air Hangat, Kecamatan Depati Tujuh, dan Air Hangat Timut, rawan terjadinya banjir.
"Sementara dikawasan pinggiran, seperti di Kecamatan Danau Kerinci, Kecamatan Keliling Danau, rawan terjadinya banjir yang disertai dengan longsor. Terjadinya kerawanan tersebut, salah satunya disebabkan karena terjadinya pendangkalan sungai," katanya.
Jumat, 01 April 2011
Sumur Mengeluarkan Gas, Pasaca Banjir Mura
politiksaman.com-Musi Rawas (24/02),Pasca dilanda banjir beberapa pekan lalu Masyarakat desa Pangkalan Tarum kecamatan BTS Ulu, diduga mengeluarkan semburan gas sehingga mengundang perhatian warga desa setempat. Sumur milik keluarga Alimun Hakim tersebut terlihat menyembur namun semburannya hingga saat ini dengan tidak membahayakan. Menurut Alimun Hakim (38) pemilik sumur mengaku sumur milik keluarga yang biasa digunakan untuk konsumsi sehari – hari tersebut dibangun oleh program pemerintah tahun 2009 lalu yang bersamaan dengan pembuatan sumur warga desa yang lainnya. Selesai di bangun sumur tersebut minim ketersediaan air walaupun kedalamannya mencapai 11 meter lebih. “Sebelum terlihat air sumur seperti mendidih sumur tersebut terdengar ada suara gemuruh dari dalam sumur, hal ini mengundang perhatian warga desa yang lainnya untuk mellihat keanehan yang terjadi di sumur tersebut,”tuturnya Dia menambahkan dengan adanya semburan air sumur yang tidak lazim ini membuta keluarganya takut untuk mengkonsumsi air dari sumur untuk keperluan sehari – hari. Untuk itu keluarganya mengambil air dari sumur milik tetangganya. “Semenjak air sumur mengeluarkan semburan, kami tidak lagi berani menggunakan air dari sumur untuk konsumsi sehari – hari, tapi kami pernah mencoba mencicipi air tersebut sama sebelumnya air terasa dingin dan rasanya tidak berubah,” ujarnya Sementara Ketua BPD Desa Pangkalan Tarum Mistar Lubis mengungkapkan selain mendapat perhatian masayarakat desa pihaknya juga sudah menyampaikan hal ini kepada pihak pemerintah kecamatan. Selain itu saat meninjau lokasi Banjir Bupati Musi Rawas H. Ridwan Mukti sekaligus meninjau lokasi sumur yang diduga mengeluarkan gas tersebut, dalam kesempatan itu bupati meminta kepada waraga untuk tidak panik dan akan menginstruksikan instansi terkait untuk melakukan penelitian. Sementara Pengelola Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), dari dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Ferry Putera, ST mengatakan bahwa disaat awal pembuatan sumur tidak ada tanda atau gejala awal sumur akan mengeluarkan semburan sehingga kejadian ini juga mengejutkan pihaknya. “Diawal pembuatan sumur tidak ada tanda – tanda seperti itu dan sama saja dengan sumur lainnya, kejadian juga mengagetkan kita, namun hal ini akan ditindak lanjuti dengan koordinasi dengan instansi terkait,”tandasnya
Pemkab Musi Rawas Dinilai Lamban Tangani Musibah Banjir
politiksaman.com-Musi Rawas (23/02), Penanganan korban banjir ditiga kecamatan di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan akibat luapan sungai Musi sampai hari kelima masih lamban. Akibatnya banyak warga yang mulai diserang penyakit dan kehabisan makanan. "Penanganan korban banjir yang menimpa ribuan warga di tiga kecamatan di Kabupaten Musi Rawas saat ini dirasakan warga yang menjadi korban sangat lamban, akibatnya sampai hari kelima sudah banyak warga yang kehabisan bahan makanan dan terserang penyakit," kata anggota DPRD Kabupaten Musi Rawas, M Sholeh, Selasa (hari ini). Ia mengatakan, belajar dari berbagai kejadian bencana selama ini seharusnya pihak Pemkab Musi Rawas cepat tanggap untuk mengatasi dampak dari bencana tersebut, sehingga warga yang menjadi korban tidak kesulitan. Untuk Kecamatan Muara Kelingi kata dia, bantuan yang diterima masyarakat masih minim. Kalaupun ada bantuan yang diterima warga berasal dari orang-per orangan dan bantuan dari Ormas maupun LSM. Bahan bantuan yang dibutuhkan masyarakat di daerah yang terkena banjir, saat ini membutuhkan bantuan bahan makanan, obat-obatan, air bersih dan bantuan lainnya. Sementara itu kepala desa (Kades) Sungai Bunut, Kecamatan Muara Kelingi Rozali menuturkan, hingga saat ini masyarakat di desa yang dipimpinnya belum menerima bantuan apapun, dan baru menerima bantuan mie dan beras dari salah satu ormas. Di desa ini ketinggian air mencapai dua meter dan telah merendam rumah 413 rumah, 35 hektare areal pertanian darat rusak, lima ternak kambing dan satu ternak sapi mati akibat terbawa arus banjir. Selain itu tiga belas warga daerah itu mengalami serangan penyakit dan mesti dirawat di puskesmas Kecamatan Muara Kelingi. Untuk itu dia mengharapkan, agar pihak Pemkab Musi Rawas secepatnya menyalurkan bantuan ke masyarakat di desa itu mengingat bantuan tersebut akan di gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena stok bahan makanan dan air bersih yang dimiliki warga sudah mulai habis. Gubernur Sumatra Selatan Alek Noerdin bersama dengan rombongan Pemprov Sumsel, Selasa siang (23/2) mengunjungi lokasi banjir di Kecamatan Muara Kelingi dan menyerahkan bantuan secara pribadi dan bantuan pemprov dalam bentuk uang Rp30 juta dan beras sebanyak 10 ton, juta untuk masyarakat di tiga kecamatan yang terkena banjir. Dalam kesempatan itu Gubernur mengimbau para camat dan kades di daerah itu agar tidak bepergian keluar daerah, dan harus menetap diwilayah kerjanya masing-masing. Sehingga perkembangan dari musibah banjir tersebut dapat dipantau setiap saat. Sebelumnya banjir yang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Musi Rawas, terjadi di Kecamatan Muara Kelingi, Muara Lakitan dan Bulang Tengah Suku Ulu. Banjir ini telah merendam 26 desa meliputi delapan desa di Kecamatan Muara Kelingi, tujuh desa di Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu, dan 11 desa di Kecamatan Muara Lakitan, dengan total rumah yang terendam mencapai 6.018 rumah. Bahkan FPR juga menyayangkan hal ini, hari kelima banjir yang menimpa 22 Desa dari 3 kecamatan ini masih banyak yang mesti dievaluasi. Bahkan Lambanya Bupati Musi Rawas meninjau Lokasi dikritisi Ketua FPR. " Mestinya dalam kondisi seperti ini, Bupati adalah orang yang pertama meninjau lokasi dan memberikan bantuan serta support Moral kepada korban bencana, " Ujar Edwar Antoni selaku ketua FPR.
Banjir MURA : 6.018 Rumah Terendam dan 95 Warga Jalani Perawatan
aumsel-Musi Rawas (22/02), Sebanyak 95 warga Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan yang terkena banjir akibat luapan sungai Musi, saat ini menjalani perawatan di puskesmas setempat karena terserang penyakit. "Sebanyak 95 warga yang berada di lima RT dalam Kelurahan Muara Kelingi, Kecamatan Muara Kelingi saat ini terserang penyakit mulai dari diare penyakit kulit dan rematik. Mereka saat ini menjalani perawatan di posko kesehatan dan puskesmas setempat," kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan Musi Rawas, Yanuar Shaleh, Senin. Dari 95 warga tersebut yang terserang penyakit antara lain diare, gatal-gatal (penyakit kulit) dan rematik, akibat mengonsumsi air sungai atau air sumur yang tidak bersih. Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan penyebaran penyakit terutama pasca banjir, pihaknya saat ini telah membuka posko kesehatan di tiga kecamatan masing-masing di Muara Kelingi, Muara Lakitan dan Kecamatan Bulang Tengah Suku Ulu (BTS Ulu) serta pengoptimalan pelayanan puskesmas dan poskesdes yang disetiap desa. selain itu pihaknya juga mulai menyalurkan obat-obatan ke masing-masing puskesmas dan poskodes. Warga diminta mewaspadai adanya serangan penyakit pasca banjir yang biasanya sering terjadi, akibat adanya genangan air, tumpukan sampah dan lumpur yang dibawa banjir, sehingga potensi penyakit sangat besar terutama penyakit demam berdarah dengue (DBD), diare, phes dan lain-lainnya. Guna mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut, pihaknya tengah mendirikan posko kesehatan dimasing-masing kecamatan selain puskesmas dan poskesdes di tingkat pedesaan. Dimana untuk mendukung kegiatan ini juga disiapkan obat-obatan guna di drop ke masing-masing posko, puskesmas dan poskodes. Sementara itu untuk menghindari warga yang terserang penyakit diare, akibat mengonsumsi air sungai maupun sumur yang tidak bersih dia mengimbau agar pihak terkait lainnya agar secepatnya mengirimkan tangki air bersih ke daerah banjir. Karena saat ini warga daerah itu masih menggunakan dan mengonsumsi air sungai maupun air sumur. Koordinator tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) pada Dinas Sosial Kabupaten Musi Rawas, Evan Saepani menjelaskan, hingga hari ketiga bencana banjir yang menimpa tiga kecamatan didaerah itu jumlah rumah yang terendam banjir mencapai 6.018 rumah, diantaranya di Kecamatan Muara Lakitan merendam 4.000 rumah, Muara Kelingi sebanyak 1.718 rumah dan Kecamatan BTS Ulu sebanyak 300 rumah. Akibat banjir ini juga mengakibatkan empat rumah di BTS Ulu hanyut terseret arus banjir, ribuan hektare areal pertanian dan perkebunan mengalami gagal panen dan kerusakan, serta ratusan ternak mati. Ditambah kerusakan sarana infrastruktur jalan maupun sarana umum lainnya mengalami kerusakan. Hingga sejauh ini belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Sedangkan bantuan bahan makanan dan obat-obatan yang dikrimkan pihak Pemprop Sumsel, sejak Sabtu (20/2) lalu hingga saat ini belum sampai ke daerah itu akibat terjebak banjir, dan untuk bantuan dari pemkab setempat saat ini masih dalam pendataan jumlah warga yang menjadi korban dan akan disalurkan ke masing-masing posko guna didistribusikan ke masing-masing desa. Taufik (29) warga Desa Pangkalan Tarum, Kecamatan BTS Ulu, sangat menyayangkan lambannya pemberian bantuan yang dilakukan pemkab setempat mengingat warga di desanya saat ini sudah tidak memiliki stok persediaan bahan makanan. Untuk itu dia mengharapkan bantuan yang akan diberikan Pemkab Musi Rawas agar segera disalurkan ke masyarakat, sehingga dapat membantu warga yang tertimpa bencana.
Langganan:
Postingan (Atom)
