Jumat, 18 Maret 2011

Kerusakan Sungai dan Daerah Aliran Sungai di Indonesia

Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan pada aspek biofisik ataupun kualitas air.
Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya.
Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Dampak Kerusakan DAS. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.
Sungai dengan Daerah Aliran Sungai di sekitarnya
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius.
Saat ini beberapa Daerah Aliran Sungai di Indonesia mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah dalam upaya pemulihan kualitas air. Sungai-sungai itu terdiri atas 10 sungai besar lintas provinsi, yakni:
  • Sungai Ciliwung; Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan DAS seluas 97.151 ha.
  • Sungai Cisadane; Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan DAS seluas 151.283 ha
  • Sungai Citanduy; Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan DAS seluas 69.554 ha
  • Sungai Bengawan Solo; Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan DAS seluas 1.779.070 ha.
  • Sungai Progo; Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan DAS seluas 18.097 ha
  • Sungai Kampar; Provinsi Sumatera Barat dan Riau dengan DAS seluas 2.516.882 ha
  • Sungai Batanghari; Provinsi Sumatera Barat dan Jambi dengan DAS seluas 4.426.004 ha
  • Sungai Musi; Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan dengan DAS seluas 5.812.303 ha
  • Sungai Barito; Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan DAS seluas 6.396.011 ha.
  • Sungai Mamasa (Saddang); Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan dengan DAS seluas 846.898 ha.
Selain pada 10 sungai lintas provinsi juga pada 3 sungai strategis nasional, yaitu:
  • Sungai Citarum; Provinsi Jawa Barat dengan DAS seluas 562.958 ha.
  • Sungai Siak; Provinsi Riau dengan DAS seluas 1.061.577 ha.
  • Sungai Brantas; Provinsi Jawa Timur dengan Daerah Aliran Sungai seluas 1.553.235 ha.
Semoga kedepannya, Daerah Aliran Sungai yang kita punyai semakin berkurang kerusakannya dan membaik kondisinya sehingga 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai di Indonesia tidak lagi mendatangkan bencana buat kita semua. Justru sebaliknya, sungai-sungai tersebut membawa manfaat dan kesejahteraan buat seluruh rakyat Indonesia.
Referensi: Buku Status Lingkungan Hidup Indonesia 2009; www.mediaindonesia.com (gambar)

BERTINDAKLAH DENGAN BERGABUNG WALK FOR WATER

SIMPATI DAN PRIHATIN SAJA TIDAK CUKUP




Latar belakang walk for water
“Jalan untuk air” merupakan bagian acara yang diakui PBB dan masyarakat dunia sebagai bentuk kepedulian atas krisis air di dunia. Jutaan warga dunia masih mengalami krisis air dimana jutaan keluarga membutuhkan air bersih  sebagai kelansungan hidup . Berawal dari isu isu dunia dimana banyak sekali saudara kita yang belum mendapatkan kemudahan akses air bersih. Masih banyak kita melihat saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang masih kesulitan dalam mencari sumber air bersih. Kesulitan akses air bersih banyak dipengaruhi beberapa factor diantaranya sumber air yang tidak ada, ketiadaan fasilitas atau sarana air bersih yang belum terbangun membuat mereka harus berjalan ribuan meter hanya untuk mendapatkan air bagi kelangsungan hidupnya. Disamping itu air erat sekali kaitannya dengan sanitasi sehingga  keduanya menjadi masalah utama yang memang harus diperhatikan .

(Warga Dusun Ngondel Wetan, Desa Krambilsawit, Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, menyaring air bersih di telaga, Kamis (13/8). KOMPAS/Wawan H Prabowo)

Di abad ini walaupun kita mengenal era kemajuan zaman di berbagai bidang, tidak menutup kemungkinan kekurangan air bersih menjadi momok menakutkan bagi penduduk di dunia. Terlebih masalah air yang ada di perkotaan rentan sekali dengan pencemaran baik dari limbah industri pabrik , limbah rumah tangga yang dalam pengelolaanya masih dibiarkan saja.Inilah sebabnya krisis air tidak hanya menjadi masalah bagi masyarakat yang kurang beruntung mendapatkan akses ini akan tetapi menjadi masalah global yang harus ditangani bersama.

Untuk itu aksi sosial walk for water merupakan bagian event dari grebeg air.Dimana acara ini adalah gerakan sosial sebagai bentuk kepedulian untuk masyarakat dunia yang mengalami krisis air. Setiap bentuk dukunganmu akan menjadi senjata bagi kita semua untuk mendesak pemerintahan dunia supaya lebih memperhatikan nasib saudara saudara kita dan dapat memberikan / mengupayakan kondisi yang lebih baik.

Bagaimana cara bergabungnya?
Datang saja!!!Acara ini akan dimulai tepat pukul 07.00 WIB pada hari minggu tanggal 20 maret 2011. Sehingga dukungan komunitas, masyarakat secara keseluruhan dapat berpartisipasi dan bergabung dengan tim Grebeg air untuk menunjukkan rasa simpati . Untuk itu Tugu Yogyakarta menjadi pilihan sebagai awal mulai start perjalanan ini, karena tugu sebagai symbol jogja mengisyaratkan bahwa masyarakat jogja pada khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya mendukung gerakan ini sebagai bentuk kepedulian bersama .
Dengan format acara bersama- sama kumpul di Tugu Yogyakarta kemudian mulai berjalan dengan membawa replika toilet untuk diusung bersama sama. Dan disertai bentangan kain putih puluhan meter sebagai ekor memanjang untuk mengajak masyarakat gabung berjalan bersama   hingga berhenti di titik nol kilometer. Selama perjalanan water for city diharapkan masyarakat yang berada disekitar areal itu mau ikut serta  bergabung dalam barisan membentuk barisan memanjang. Hingga sampai garis terakhir akan disambut dengan acara Grebeg Air .
Mari tunjukkan Kepedulianmu dengan bersama sama walk for water

Separuh Penduduk Dunia Kekurangan Air Bersih pada Tahun 2050


Bertepatan dengan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar The Fifth Water World Forum yang diikuti oleh sejumlah pejabat beserta para ahli. Forum ini bertujuan untuk menemukan langkah terbaik dalam pengelolaan air dunia serta menerbitkan sebuah dokumen yang berisikan permasalahan air, kependudukan dan perubahan iklim. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB (Silaban, 2009).

Hal tersebut kemudian menitikberatkan pemilihan tema Clean Water Quality Challenges and Opportunity sebagai tema global Hari Air Dunia tahun 2010. Kualitas air kini telah menjadi isu global yang menuntut tindakan serba cepat dari siapa saja yang peduli terhadap prediksi kesulitan air bersih di tahun 2050. Setiap harinya jutaan ton sampah dan limbah industri dan pertanian tak terolah dengan baik dibuang ke saluran air di seluruh dunia. Setiap tahunnya danau, sungai dan delta menerima beban setara dengan seluruh populasi manusia di dunia, yakni sekitar 7 Milyar jiwa. Setiap tahunnya, semakin banyak orang yang meninggal sebagai konsekuensi dari unsafe water dan dampak terbesar menimpa balita.

Kekeringan di Pakistan (sumber : nationalgeographic.com)
Sebenarnya apa yang terjadi? United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa volume total air dunia sekitar 1.4 milliar km3. Sedangkan volume air tawar hanya 2.5 % dari volume total air dunia atau setara dengan 35 juta km3, tetapi hanya kurang dari 1 % saja yang dapat digunakan oleh manusia serta ekosistem di muka bumi (www.unwater.org). Namun karena pengaruh perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk, pemanfaatan air bersih sulit terkendali. Ketersediaan air semakin berkurang mengakibatkan kesulitan akses air bersih mulai tahun 2000. WHO mencatat sekitar 1.1 milliar orang kesulitan air bersih sebagai pemenuh kebutuhan dasar – air minum dan sanitasi (www.forumbebas.com).

Selama 50 tahun terakhir, konsumsi air bersih meningkat sebanyak tiga kali dan permintaannya meningkat sebanyak 64 juta m3 per tahun. Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dunia sebesar 80 juta jiwa per tahunnya, perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi, produksi biofuel yang meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan (1000 – 4000 liter air untuk menghasilkan 1 liter biofuel) serta peningkatan permintaan energi yang berimplikasi terhadap permintaan air (www.worldometers.info).

Permintaan terhadap air bersih meningkat seiring dengan pertumbuhan perindustrian, pertanian sistem irigasi dan peningkatan standard kehidupan layak (ciri-ciri negara berkembang). Ditambah persediaan air bagi manusia telah menyusut seiring dengan peningkatan jumlah sumber air bersih yang terpolusi, danau dan sungai telah menjadi tempat penyimpanan berbagai macam limbah, termasuk buangan sisa aktivitas perkantoran yang hanya terolah sebagian maupun tidak terolah, saluran pembuangan limbah beracun dari daerah industri, serta bahan-bahan kimia berbahaya yang larut dalam air permukaan maupun airtanah akibat aktivitas pertanian (info.k4health.org).

Kondisi rumit yang mempertemukan ketersediaan air bersih serta peningkatan permintaan terhadap air bersih itu sendiri telah memberikan pilihan yang sulit pada negara-negara berkembang. Perkembangan bukannya tidak membutuhkan pengorbanan dalam pencapaiannya. Namun apakah pengorbanan itu sesuai dengan konsekuensi yang harus dihadapi? Separuh penduduk dunia diprediksikan mengalami sulitnya mengakses air bersih. Kitakah salah satunya

Separuh Penduduk Dunia Kekurangan Air Bersih pada Tahun 2050


Bertepatan dengan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar The Fifth Water World Forum yang diikuti oleh sejumlah pejabat beserta para ahli. Forum ini bertujuan untuk menemukan langkah terbaik dalam pengelolaan air dunia serta menerbitkan sebuah dokumen yang berisikan permasalahan air, kependudukan dan perubahan iklim. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB (Silaban, 2009).

Hal tersebut kemudian menitikberatkan pemilihan tema Clean Water Quality Challenges and Opportunity sebagai tema global Hari Air Dunia tahun 2010. Kualitas air kini telah menjadi isu global yang menuntut tindakan serba cepat dari siapa saja yang peduli terhadap prediksi kesulitan air bersih di tahun 2050. Setiap harinya jutaan ton sampah dan limbah industri dan pertanian tak terolah dengan baik dibuang ke saluran air di seluruh dunia. Setiap tahunnya danau, sungai dan delta menerima beban setara dengan seluruh populasi manusia di dunia, yakni sekitar 7 Milyar jiwa. Setiap tahunnya, semakin banyak orang yang meninggal sebagai konsekuensi dari unsafe water dan dampak terbesar menimpa balita.

Kekeringan di Pakistan (sumber : nationalgeographic.com)
Sebenarnya apa yang terjadi? United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa volume total air dunia sekitar 1.4 milliar km3. Sedangkan volume air tawar hanya 2.5 % dari volume total air dunia atau setara dengan 35 juta km3, tetapi hanya kurang dari 1 % saja yang dapat digunakan oleh manusia serta ekosistem di muka bumi (www.unwater.org). Namun karena pengaruh perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk, pemanfaatan air bersih sulit terkendali. Ketersediaan air semakin berkurang mengakibatkan kesulitan akses air bersih mulai tahun 2000. WHO mencatat sekitar 1.1 milliar orang kesulitan air bersih sebagai pemenuh kebutuhan dasar – air minum dan sanitasi (www.forumbebas.com).

Selama 50 tahun terakhir, konsumsi air bersih meningkat sebanyak tiga kali dan permintaannya meningkat sebanyak 64 juta m3 per tahun. Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dunia sebesar 80 juta jiwa per tahunnya, perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi, produksi biofuel yang meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan (1000 – 4000 liter air untuk menghasilkan 1 liter biofuel) serta peningkatan permintaan energi yang berimplikasi terhadap permintaan air (www.worldometers.info).

Permintaan terhadap air bersih meningkat seiring dengan pertumbuhan perindustrian, pertanian sistem irigasi dan peningkatan standard kehidupan layak (ciri-ciri negara berkembang). Ditambah persediaan air bagi manusia telah menyusut seiring dengan peningkatan jumlah sumber air bersih yang terpolusi, danau dan sungai telah menjadi tempat penyimpanan berbagai macam limbah, termasuk buangan sisa aktivitas perkantoran yang hanya terolah sebagian maupun tidak terolah, saluran pembuangan limbah beracun dari daerah industri, serta bahan-bahan kimia berbahaya yang larut dalam air permukaan maupun airtanah akibat aktivitas pertanian (info.k4health.org).

Kondisi rumit yang mempertemukan ketersediaan air bersih serta peningkatan permintaan terhadap air bersih itu sendiri telah memberikan pilihan yang sulit pada negara-negara berkembang. Perkembangan bukannya tidak membutuhkan pengorbanan dalam pencapaiannya. Namun apakah pengorbanan itu sesuai dengan konsekuensi yang harus dihadapi? Separuh penduduk dunia diprediksikan mengalami sulitnya mengakses air bersih. Kitakah salah satunya

Separuh Penduduk Dunia Kekurangan Air Bersih pada Tahun 2050


Bertepatan dengan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar The Fifth Water World Forum yang diikuti oleh sejumlah pejabat beserta para ahli. Forum ini bertujuan untuk menemukan langkah terbaik dalam pengelolaan air dunia serta menerbitkan sebuah dokumen yang berisikan permasalahan air, kependudukan dan perubahan iklim. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB (Silaban, 2009).

Hal tersebut kemudian menitikberatkan pemilihan tema Clean Water Quality Challenges and Opportunity sebagai tema global Hari Air Dunia tahun 2010. Kualitas air kini telah menjadi isu global yang menuntut tindakan serba cepat dari siapa saja yang peduli terhadap prediksi kesulitan air bersih di tahun 2050. Setiap harinya jutaan ton sampah dan limbah industri dan pertanian tak terolah dengan baik dibuang ke saluran air di seluruh dunia. Setiap tahunnya danau, sungai dan delta menerima beban setara dengan seluruh populasi manusia di dunia, yakni sekitar 7 Milyar jiwa. Setiap tahunnya, semakin banyak orang yang meninggal sebagai konsekuensi dari unsafe water dan dampak terbesar menimpa balita.

Kekeringan di Pakistan (sumber : nationalgeographic.com)
Sebenarnya apa yang terjadi? United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa volume total air dunia sekitar 1.4 milliar km3. Sedangkan volume air tawar hanya 2.5 % dari volume total air dunia atau setara dengan 35 juta km3, tetapi hanya kurang dari 1 % saja yang dapat digunakan oleh manusia serta ekosistem di muka bumi (www.unwater.org). Namun karena pengaruh perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk, pemanfaatan air bersih sulit terkendali. Ketersediaan air semakin berkurang mengakibatkan kesulitan akses air bersih mulai tahun 2000. WHO mencatat sekitar 1.1 milliar orang kesulitan air bersih sebagai pemenuh kebutuhan dasar – air minum dan sanitasi (www.forumbebas.com).

Selama 50 tahun terakhir, konsumsi air bersih meningkat sebanyak tiga kali dan permintaannya meningkat sebanyak 64 juta m3 per tahun. Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dunia sebesar 80 juta jiwa per tahunnya, perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi, produksi biofuel yang meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan (1000 – 4000 liter air untuk menghasilkan 1 liter biofuel) serta peningkatan permintaan energi yang berimplikasi terhadap permintaan air (www.worldometers.info).

Permintaan terhadap air bersih meningkat seiring dengan pertumbuhan perindustrian, pertanian sistem irigasi dan peningkatan standard kehidupan layak (ciri-ciri negara berkembang). Ditambah persediaan air bagi manusia telah menyusut seiring dengan peningkatan jumlah sumber air bersih yang terpolusi, danau dan sungai telah menjadi tempat penyimpanan berbagai macam limbah, termasuk buangan sisa aktivitas perkantoran yang hanya terolah sebagian maupun tidak terolah, saluran pembuangan limbah beracun dari daerah industri, serta bahan-bahan kimia berbahaya yang larut dalam air permukaan maupun airtanah akibat aktivitas pertanian (info.k4health.org).

Kondisi rumit yang mempertemukan ketersediaan air bersih serta peningkatan permintaan terhadap air bersih itu sendiri telah memberikan pilihan yang sulit pada negara-negara berkembang. Perkembangan bukannya tidak membutuhkan pengorbanan dalam pencapaiannya. Namun apakah pengorbanan itu sesuai dengan konsekuensi yang harus dihadapi? Separuh penduduk dunia diprediksikan mengalami sulitnya mengakses air bersih. Kitakah salah satunya

Sulitnya Mendapatkan Air Bersih di Jakarta; Cerita Dari Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara



Bagi sebagian besar warga Jakarta, mengandalkan air perpipaan untuk kebutuhan sehari-hari bisa jadi merupakan kesalahan besar (dalam catatan BPS 2010, hanya 25% warga Jakarta yang mendapat akses layanan air perpipaan). Pasokan air yang tidak kontinyu, dan kualitas air yang buruk, menjadikan banyak warga tidak percaya terhadap air perpipaan. Sebagian warga yang mampu, banyak  menggunakan air tanah sebagai sumber kehidupan mereka sehari-hari, itupun dengan catatan air tanah yang ada masih cukup layak untuk dikonsumsi. Jikapun tidak, mereka akan mencari sumber alternatif lain termasuk air kemasan.
Namun kondisi yang berbeda dihadapi oleh masyarakat kurang mampu yang kebanyakan juga tinggal di daerah kumuh. Muara Baru misalnya, sumur disana sangatlah terkontaminasi oleh limbah dan air laut, hingga warga yang bermukim di salah satu kawasan termiskin Jakarta Utara ini terpaksa mencari air ditempat lain. Ironisnya kelompok yang paling menderita dengan situasi ini adalah kelompok perempuan. Sebagian besar warga Muara baru hidup di pemukiman ilegal, kampung-kampung yang ditolak untuk dipasangi instalasi perpipaan oleh operator swasta.  Anehnya,  ada saja orang-orang kuat yang bisa mengatur sambungan ilegal, jangan tanya bagaimana caranya, seorang toke yang memiliki sambungan dari PALYJA bisa melayani hingga seratus rumah tangga dengan selang temporer.
Mbak Sinta (32 tahun), seorang ibu rumah tangga dan guru, bercerita bahwa untuk memenuhi kebutuhan air selama dua hari, warga bergantian memakai selang air yang digunakan untuk memenuhi tong-tong air. Setiap kali mengisi waktunya dibatasi hanya 20 menit. ”Kami harus membayar Rp.80.000,” kata Shinta, “ Padahal beberapa minggu yang lalu harganya masih RP.65.000 untuk 30  menit pemakaian, sekarang jadi Rp.80.000. Katanya karena harga dari PALYJA sudah naik”,lanjutnya.
Ada juga warga Muara Baru yang memiliki meter air pipa, sehingga seharusnya mereka bisa aman dalam mengakses air bersih. Namun air tersebut tidak pernah mengalir, dan warga tersebut harus menanggung biaya beban karena memiliki sambungan, tetapi juga harus membeli air di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Direksi PDAM Tirtanadi janji akan perbaiki kinerja

MEDAN: Direksi PDAM Tirtanadi yang baru dilantik berjanji akan memperbaiki kinerja hingga 5 tahun ke depan.
Janji ini akhirnya disampaikan Dirut PDAM Tirtanadi Azzam Rizal bersama jajarannya Direktur Akutansi dan Keuangan Ahmad Thamrin serta Direktur Produksi Perencanaan Tamsil Lubis, usai dikritik kinerjanya yang buruk saat rapat dengar pendapat Komisi C DPRD Sumut, hari ini.
Dalam rapat tersebut terungkap bahwa buruknya kinerja PDAM Tirtanadi dilihat dari besarnya hutang perusahaan monopoli air minum milik Pemprovsu, yakni mencapai Rp192 miliar. Sementara dana segar yang dimiliki hanya berkisar Rp40 miliar.
Menurut Dirut PDAM Tirtanadi Azzam Rizal, besarnya dana operasional yang mencapai Rp300 miliar sementara tingkat tunggakan juga tinggi mengakibatkan pihaknya kesulitan. Terutama biaya rekening listrik kepada PLN yang mencapai Rp4 miliar per bulan, karena selama ini PDAM Tirtanadi dimasukkan dalam kategori tarif 13 atau industri besar, sementara pihaknya adalah perusahaan pelayanan masyarakat (public service).
Azzam Rizal juga mengakui selama ini banyak keluhan dari pelanggan khususnya di wilayah Medan dan sekitarnya tentang buruknya aliran air dan kadang berwarna keruh.
Hal ini katanya disebabkan pihaknya tidak mampu mengalirkan air dengan normal pada kebutuhan air hari maksimum yang mencapai 4800 meter kubik per detik, terutama yang ada di kota Medan dan sekitarnya yang mencapai 363.083 pelanggan. Namun jika untuk kebutuhan rata-rata yakni 4420 meter kubik per detik masih bisa ditalangi.
Anggota Komisi C dari Fraksi PKS Hidayatullah menekankan kepada direksi yang baru dilantik agar tidak mengulang kinerja buruk PDAM Tirtanadi di periode lalu. Dimana tingkat kebocoran air (loose) mencapai lebih dari 20%. Di sisi lain, pasokan untuk pelanggan yang ada sudah tidak maksimal kini tuntutan kebutuhan pemasangan baru semakin tinggi seiring semakin berkembangnya properti di Medan dan sekitarnya khususnya.
"PDAM Tirtanadi merupakan perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, jadi jangan main-main," tukasnya.