ASOSIASI SWARA WARTAWAN DEMOKRASI (ASWD ) MEMPERIGATI HARI AIR DUNIA KE 19 TAHUN 2011 DI DESA POMPA AIR
Senin, 28 Maret 2011
Selasa, 22 Maret 2011
.: donnafm :.: 22 Maret Hari Air Sedunia (World Water Day)
.: donnafm :.: 22 Maret Hari Air Sedunia (World Water Day): "Hari Air Sedunia atau World Water Day dan sering pula disebut sebagai World Day for Water merupakan hari perayaan yang ditujukan untuk mena..."
GREBEG AIR INDONESIA: STOP BABS - Grebeg Air 2011
GREBEG AIR INDONESIA: STOP BABS - Grebeg Air 2011: "Ini adalah project video gagal. Bukan gagal karena tidak ada biaya untuk editing, tapi gagal karena tidak bisa ditampilkan sebagai sa..."
GREBEG AIR INDONESIA: PRESS RELEASE
GREBEG AIR INDONESIA: PRESS RELEASE: "Yogayakarta, 17 Maret 2011 GREBEG AIR “Air untuk kota , sebuah tantangan urbanisme” BORDA Indonesia berkolaborasi dengan Pemeri..."
GREBEG AIR INDONESIA: STOP BABS - Grebeg Air 2011
GREBEG AIR INDONESIA: STOP BABS - Grebeg Air 2011: "Ini adalah project video gagal. Bukan gagal karena tidak ada biaya untuk editing, tapi gagal karena tidak bisa ditampilkan sebagai sa..."
Bundaran HI Jadi Pusat Aksi Hari Air Sedunia 2011
Incoming search terms:
aksi air (2),hari air dunia 2011 (2),berita hari air sedunia 2011 di HI (1)You might also like
Aksi Hari Air Sedunia di Bundaran HI Aksi memperingati Hari Air Sedunia dilakukan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa... | TKW Rayakan Hari Wanita Sedunia di KBRI Abu Dhabi Sebanyak 48 tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang bermasalah di penampungan Kedutaan Besar Republik... | Banyak Warga Miskin Bayar Air Bersih Dua kelompok masyarakat melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia,... | Ratusan Perempuan Gelar Aksi Bersih-bersih GARUT, (PRLM).- Memperingati Hari Pe |
Jumat, 18 Maret 2011
Jalan Kedungmutih – Babalan Demak , Rusak Lagi Hati- Hati
Jalan dengan lubang dan genangan air |
Dikatakan , jalan Kedungmutih – Babalan adalah jalan alternative dari Kota Jepara menuju ke Demak lewat pantura yang ada sudah sejak dahulu. Namun sampai saat ini kondisi jalan yang menghubungkan kota ukir dan kota wali masih ada beberapa ruas jalan dan jembatan yang harus di benahi. Dari kota Jepara sampai desa Kedungmalang kondisi jalannnya cukup bagus dan tidak bermasalah bagi pengendara roda dua atau empat . Namun memasuki desa Kedungmutih – Babalan – Menco kondisi jalannya masih memprihatinkan , selain berupa tanah liat , macadam dan juga betonisasi , namun karena pengerjaan yang kurang bagus setelah diperbaiki beberapa saat rusak kembali . Selain dua ruas jalan tersebut kondisinya cukup bagus seperti Menco – Wedung ,
Wedung – Bonang dan Bonang –Demak sudah mulus bagi pengendara roda dua atau empat.
“ Oleh karena itu kami mohon pemerintah daerah Demak dan propinsi Jawa Tengah memikirkan jalan alternative Jepara – Demak ini . Jika jalan ini bagus kondisinya maka jalur ekonomi Jepara – Demak akan lancar juga akan membuka simpul-simpul ekonomi di seputaran pesisir Demak dan Jepara “ ujar Muazari pedagang udang dari desa Babalan.
Selain sebagai jalur alternative Jepara - Demak ruas jalan di pantura ini juga sebagai jalur pemasaran hasil perikanan dan garam bagi warga pesisir. Dengan kondisi jalan yang rusak ini mengakibatkan kesulitan penjualan ikan dan juga garam , karena kendaraan besar tidak dapat memasuki lahan tambak ikan dan garam . Akibatnya para petani tambak dan garam harus mengeluarkan biaya ekstra untuk angkutan yang selanjutnya dapat mengurangi harga jual komoditas perikanan dan garam. Hal ini berakibat produk ikan dan garam dari Demak ini kalah bersaing dengan produk yang sama dari daerah lainnya. Melihat kenyataan itulah maka pemerintah selayaknya secepatnya untuk membenahi infrastuktur
Jalan dan jembatan di kawasan pantura Demak khususnya jalur Kedungmutih – Babalan- Menco.
kendaraan roda dua terjebak slip di jalan Kedungmutih - Babalan |
Banjir Bandang Satu Desa Masih Terisolir
TANGSE- Satu desa yang dilanda banjir bandang di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, masih terisolasi karena ruas jalan ke tempat itu masih tertimbun longsor.
Berdasarkan pantauan Kamis (17/3/2011), desa yang terisolasi tersebut yakni Gampong (Desa) Blang Pandak. Di gampong itu ada sekitar 3.000 jiwa korban bencana.
Banjir bandang yang melanda sejumlah desa di kawasan pedalaman Kabupaten Pidie, Tangse atau sekitar 170 kilometer, Kota Banda Aceh, terjadi pada Kamis (10/3/2011) malam.
Banjir itu menyebabkan kerusakan berbagai infrastruktur publik dan rumah penduduk. Selain itu, data terakhir menyebutkan korban meninggal dunia banjir tersebut mencapai 12 orang. Kendati terisolasi, korban bencana di gampong itu tidak mengalami krisis makanan.
Distribusi bantuan dibawa dengan berjalan kaki sekitar lima kilometer dari desa terdekat yang bisa dilalui kendaraan bermotor.
Selain itu, pembersihan ruas jalan ke Gampong Blang Pandak menggunakan alat berat juga terhambat.
Alat berat yang dikerahkan tidak bisa beroperasi karena tertimbun longsor di kawasan Rantau Panyang, terpaut beberapa kilometer dari desa terisolir.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan sejumlah pejabat ketika meninjau longsor tersebut mengharapkan akses jalan desa terisolir bisa ditembusi kendaraan untuk mengangkut logistik korban banjir bandang.
Gubernur mengatakan, sebelumnya telah dijanjikan ruas jalan tersebut bisa ditembusi. Tapi, karena pekerjaan yang begitu berat dan tanah yang labil menyebabkan kesulitan membersihkan longsor di kawasan itu.
"Jika cuaca dalam beberapa hari ini membaik, maka ruas jalan yang tertutup longsor bisa dibersihkan. Warga tidak perlu khawatir, bantuan tetap dikirim," katanya.
Misteri Kota Cina Tenggelam Aset Parawisata Kota Medan Belum Tergali
ROY ANDRE (ASWD)
MEDAN MARELAN - "Tuntutlah Ilmu dari Buaian hingga ke Kota Cina" mungkin falsapat itu ada benarnya, terbukti dari hasil penelusuran di kawasan Jalan kota Cina yang tenggelam sebab kedua lokasi histories di negeri ini masih terabaikan oleh Dinas Parawisata Medan padahal bukan tak mungkin lokasi Kota Cina tenggelam dekat Danau Siombak kedepan menjadi tujuan wisata baru setelah Danau Toba dan Pulau Bali yang ada di Indonesia.
Warga Lingkungan VII Jalan Kota Cina mengaku, masyarakat banyak memburu barang antik serta senggaja membuat pengalian disana-sini, barang antik peninggalan sejarah dari kerajaan Cina itu tak akan timbul begitu saja apabila niat dari orang yang mencari itu tak bersih apalagi kawasan Kota Cina Tenggelam masih kental diselimuti misteri.
Bahkan tak jarang warga dimimpikan untuk segera membongkar dan mengali tanah di suatu tempat untuk menemukan hata karun berupa barang antik yang bernilai sejarah tinggi.
Namun setelah terbangun dari tidur, orang yang dimimpikan itu merasa bingung karena lokasi yang ada dimimpi dengan kenyataan jauh berbeda sehingga perlu bantuan orang pintar (paranormal-red).
Paranormal sendiri mengaku kewalahan untuk mengangkat harta karun yang ada di dalam tanah sebagaimana yang dimimpikan tersebut sebab di tempat terpenamnya harta karun itu banyak dijaga mahluk halus/gaib berbentuk dewa naga, dewa kerang serta jin penunggu berbentuk kerah putih.
"Dulu ada orang nekad mengali lokasi temuan seperti dalam mimpi dan tak percaya dengan "Tahyul" tah iyah tak betul, setelah lokasi digali memang ada menemukan benda beharga namun tak berselang beberapa hari ia dimimpikan diserang seekor naga dan monyet putih agar mengembalikan barang temuannya tersebut," kata Totok seorang warga setempat.
Lebih lanjut kata kata Totok, orang yang menemukan barang antik tersebut tetap membandal bahkan malah memperjualbelikan barang antik temuannya hingga akhirnya penemu itu diserang penyakit yang hebat hingga akhirnya meninggal dunia.
Pernah juga ada orang tanpa sengaja menemukan barang antic peninggalan kaisar Cina berupa pedang dan patung kemudian oleh pihak orang ketiga mengaku dari orang Pemerintah RI hingga barang antik temuan itu disita dan dibawa untuk di museumkan. Akan tetapi pengakuan orang itu hanya isapan jempol (Bohong) belaka sehingga hasil temuan warga tersebut hingga kini tak diketahui rimbanya.
"Makanya wajar saja bila warga disini sudah trauma, bila ada menemukan barang antic dari dalam tanah di kota Cina ini secara diam-diam dijual kepada orang yang gemar kepada barang antik tanpa melapor kepada pihak Pemerintahan," cetus Totok.
Mitos yang berkembang, dulu sewaktu jayanya orang Cina di daerah ini memiliki jaringan perdagangan rempah-rempah hingga hampir seluruh mancanegara di Asia Tenggara.
Namun saingan bisnis mereka datang dari kalangan pedagang dari Hindia serta orang keling, tak diketahui secara pasti akantetapi menurut kabar, diantara orang Cina dan keling sempat terjadi perseteruan yang hebat serta persaingan tak sehat guna memperebutkan daerah Pelabuhan Kota Cina ini.
Bahkan beredar kabar kemungkinan akibat kemerosotan moral orang Cina dikala itu menyebabkan munculnya serangan kerang putih hingga ke dalam rumah, sangking dasyatnya serangan kepah putih tersebut menyebabkan anak-anak keturunan orang Cina dikala itu terpaksa disimpan di dalam Guci serta dalam kelambu.
Tak tahan terus menerus didatangi kepah putih dari segala penjuru akhirnya sebagian besar orang Cina terpaksa mengungsi (Eksodus) ke negeri asal mereka dan sebagian kecil menetap di Medan.
"Kalau bapak tak percaya, tanya saja sama orang-orang yang sudah tua di daerah ini, pasti membenarkan adanya penyerangan kepah putih di kota Cina dan buktinya hingga kini masih tampak di hampir seluruh dinding sungai disini tertutup kepah putih," sambung Chadijah menyakinkan.
Sedangkan menurut seorang Paranormal didaerah tersebut mengungkapkan di Kota Cina terpendam ribuan barang berharga yang bernilai tinggi dijaga oleh Datuk, Jin dan binatang ganas.
Bagaimana cara untuk mendapatkan sejumlah harta karun tersebut? Menurut Paranormal yang tak ingin namanya ditulis itu mengaku tak mudah untuk menemukan barang antik tersebut, kecuali harus menghadirkan tokoh ulama, Dukun serta sesajian yang memadai.
Dahulu pernah ada orang yang sembarangan mengali harta peninggalan Cina tersebut hingga menemukan banyak perhiasan namun karena rakus akhirnya ia terkena penyakit mematikan hingga tak lama kemudian meninggal dunia.
Hari Air Sedunia (World Water Day)
Hari Air Sedunia atau World Water Day dan sering pula disebut sebagai World Day for Water merupakan hari perayaan yang ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat sedunia (internasional) akan pentingnya air bagi kehidupan serta untuk melindungi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Peringatan Hari Air Sedunia dilaksanakan setiap tanggal 22 Maret.
Pun pada tahun 2011. Peringatan hari air sedunia atau World Water Day dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2011 di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Sejarah Hari Air Sedunia. Berdasarkan sejarahnya Hari Air Sedunia dicetuskan kali pertama saat digelar United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Bumi oleh PBB di Rio de Janeiro pada tahun 1992.
Pada Sidang Umum PBB ke-47 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 1992, keluarlah Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Air se-Dunia setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati pertama kali pada tahun 1993.
Tema dan Logo Hari Air Sedunia. Setiap tahun peringatan Hari Air Sedunia memiliki tema dan logo tersendiri yang ditetapkan PBB. Sebagai contoh pada tahun 2009 silam tema yang diangkat adalah “Shared Waters Shared Opportunities” yang di-Indonesiakan menjadi “Air Bersama, Peluang Bersama”. Sedang pada Hari Air Sedunia tahun 2010 mengambil tema “Clean Water for a Healthy World“.
Dan kini pada peringatan Hari Air Sedunia tahun 2011, tema yang diangkat adalah “Water for Cities, Responding to The Urban Challenge“. Tema ini dialihbahasakan dalam tema hari air tingkat nasional menjadi “Air Perkotaan dan Tantangannya”.
Uniknya, logo resmi Hari Air Sedunia Tahun 2011 yang dirilis oleh www.worldwaterday2011.org (situs resmi World Water Day 2011) dibuat dalam 40 bahasa yang berbeda. Dan salah satu logo tersebut ternyata dibuat dalam bahasa Indonesia.
Hari Air Sedunia – Word Water Day Tahun 2011. Dari tema dan logo ini terlihat bahwa isu khusus yang diangkat PBB dalam Hari Air Sedunia tahun 2011 berkaitan dengan air di daerah perkotaan dan berbagai permasalahannya terutama terkait urbanisasi.
Di Indonesia yang katanya negeri kaya air, ternyata juga tidak terlepas dari persoalan air. Di kota-kota, berbagai permasalahan air telah menghantui setiap orang. Ketersediaan Air bersih yang semakin mahal dan langka serta pencemaran air menjadi masalah nyata terutama di kota-kota besar Indonesia.
Untuk itu, peringatan Hari Air Sedunia 2011 seharusnya menjadi tonggak awal kesadaran kita bahwa kita perlu melakukan tindakan nyata untuk menyelamatkan air kita. Tiga hal paling sederhana namun berdampak besar yang bisa kita lakukan adalah mulai hemat air, mengurangi pencemaran air, dan menanam air hujan.
Referensi dan gambar:
- www.worldwaterday2011.org (materi dan gambar)
Baca artikel tentang air dan alam lainnya:
Krisis Air Bersih di Indonesia yang Kaya Air
Krisis air bersih melanda Indonesia padahal Indonesia merupakan negara yang kaya akan. Indonesia memiliki enam persen persediaan air dunia atau sekitar 21% dari persediaan air Asia Pasifik, namun pada kenyataannya dari tahun ke tahun Indonesia mengalami krisis air bersih.
Indikasi krisis air bersih dapat dilihat dari kondisi air yang digambarkan berdasarkan kualitas (mutu) air dan dan ketersediaan (volume) air yang terdapat di Indonesia.
Ketersediaan dan Kualitas Air di Indonesia. Ketersediaan air berhubungan dengan berapa banyak air yang dapat dimanfaatkan dibandingkan dengan kebutuhannya.
Air tawar, sebagai air bersih, bersumber dari curah hujan yang kemudian tertampung pada danau, situ, sungai, maupun cekungan air tanah. Indonesia memiliki lebih dari 500 danau dengan danau Toba, sebagai danau terluas yang memiliki luas lebih dari 110 ribu hektar. Cekungan air di Indonesia diperkirakan mempunyai total volume sebesar 308 juta meter kubik.
Dari data tersebut Indonesia tidak terbantahkan sebagai negara yang kaya akan ketersediaan air. Sayangnya potensi ketersediaan air bersih dari tahun ke tahun cenderung berkurang akibat rusaknya daerah tangkapan air dan pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 15–35% per kapita per tahun. Padahal di lain pihak kecenderungan konsumsi air bersih justru naik secara eksponensial.
Kualitas air berkaitan dengan kelayakan pemanfaat air untuk untuk berbagai kebutuhan. Kualitas air juga berhubungan dengan volume dan daya pulih air (self purification) untuk menerima beban pencemaran dalam jumlah tertentu. Dan kelayakan air, terutama untuk minum, di Indonesia telah mencapai ambang yang sangat memprihatinkan.
Mengatasi krisis air bersih. Berdasarkan kondisi air (kualitas maupun ketersediaan) di Indonesia, potensi sebagai negara yang kaya air tidak mampu menghindarkan Indonesia dari krisis air bersih. Setiap kali musim kemarau tiba berbagai daerah mengalami kekeringan air. Bahkan ketika musim penghujan pun krisis air bersih tetap mengintai lantaran surplus air yang kerap mengakibatkan banjir sehingga sumber air tidak dapat termanfaatkan.
Krisis air bersih membuat sebagian besar penduduk Indonesia musti mengkonsumsi air yang seharusnya tidak layak minum. United States Agency for International Development (USAID) dalam laporannya (2007), menyebutkan, penelitian di berbagai kota di Indonesia menunjukkan hampir 100 persen sumber air minum kita tercemar oleh bakteri E Coli dan Coliform.
Untuk mengatasi krisis air bersih paya penyelamatan lingkungan, termasuk di antaranya penyelamatan sumber-sumber air, harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya penyelamatan lingkungan demi mengatasi krisis air bersih dapat dilakukan melalui:
- Menggalakkan gerakan hemat air.
- Menggalakkan gerakan menanam pohon seperti one man one tree (selama daur hidupnya pohon mampu menghasilkan 250 galon air).
- Konservasi lahan, pelestarian hutan dan daerah aliran sungai (DAS).
- Pembangunan tempat penampungan air hujan seperti situ, embung, dan waduk sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau.
- Mencegah seminimal mungkin air hujan terbuang ke laut dengan membuat sumur resapan air atau lubang resapan biopori.
- Mengurangi pencemaran air baik oleh limbah rumah tangga, industri, pertanian maupun pertambangan.
- Pengembangan teknologi desalinasi untuk mengolah air asin (laut) menjadi air tawar.
Dan kesemua itu musti dilakukan secara terintegrasi, berkelanjutan dan sesegera mungkin kecuali kalau kita memang menikmati dan bangga dengan krisis air bersih di negara yang kaya air.
Artikel ini ditulis sebagai bentuk partisipasi dalam aksi global dunia maya, Blog Action Day 2010.
Referensi:
- Buku Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2009
- sains.kompas.com
- gambar: foto pribadi
Baca artikel tentang alam lainnya:
Pencemaran Air di Indonesia
Pencemaran air di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Pencemaran air dapat diartikan sebagai suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya kualitas air hingga ke tingkat yang membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya. Fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan terhadap kualitas air, tapi dalam pengertian ini tidak dianggap sebagai pencemaran.
Pencemaran air, baik sungai, laut, danau maupun air bawah tanah, semakin hari semakin menjadi permasalahan di Indonesia sebagaimana pencemaran udara dan pencemaran tanah. Mendapatkan air bersih yang tidak tercemar bukan hal yang mudah lagi. Bahkan pada sungai-sungai di lereng pegunungan sekalipun.
Pencemaran air di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh aktifitas manusia yang meninggalkan limbah pemukiman, limbah pertanian, dan limbah industri termasuk pertambangan. Limbah pemukiman mempunyai pengertian segala bahan pencemar yang dihasilkan oleh daerah pemukiman atau rumah tangga. Limbah pemukiman ini bisa berupa sampah organik (kayu, daun dll), dan sampah nonorganik (plastik, logam, dan deterjen).
Limbah pertanian mempunyai pengertian segala bahan pencemar yang dihasilkan aktifitas pertanian seperti penggunaan pestisida dan pupuk. Sedangkan limbah industri mempunyai pengertian segala bahan pencemar yang dihasilkan aktifitas industri yang sering menghasilkan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Asian Development Bank (2008) pernah menyebutkan pencemaran air di Indonesia menimbulkan kerugian Rp 45 triliun per tahun. Biaya yang akibat pencemaran air ini mencakup biaya kesehatan, biaya penyediaan air bersih, hilangnya waktu produktif, citra buruk pariwisata, dan tingginya angka kematian bayi.
Dampak lainnya yang tidak kalah merugikan dari pencemaran air adalah terganggunya lingkungan hidup, ekosistem, dan keanekaragaman hayati. Air yang tercemar dapat mematikan berbagai organisme yang hidup di air.
Saya merindukan masa-masa kecil saya ketika saya bisa bebas bermain di sungai-sungai kecil dengan airnya yang bersih jernih, bebas dari berbagai polutan. Mengejari ikan wader. Sobat-sobat juga merindukannya?
Referensi: berbagai sumber, chemistrisaryanto.wordpress.com (gambar)
Baca artikel tentang alam lainnya:
- Tingkat Pencemaran Udara Di Indonesia
- Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Pulau Jawa Terburuk
- Pengelolaan Sampah Kesalahan Pola Pikir dan Gaya Hidup
- Mengenal Bahaya Kemasan Plastik dan Kresek
- Dampak Plastik Terhadap Lingkungan
- 3R (Reuse Reduce Recycle) Sampah
- Perilaku Bijak Di Pantai
- Kerusakan Hutan (Deforestasi) Di Indonesia
- Abrasi Rusak 40 Prosen Pantai Indonesia
- Lubang Resapan Biopori, Sederhana Tepat Guna
Kerusakan Sungai dan Daerah Aliran Sungai di Indonesia
Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan pada aspek biofisik ataupun kualitas air.
Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya.
Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Dampak Kerusakan DAS. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius.
Saat ini beberapa Daerah Aliran Sungai di Indonesia mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah dalam upaya pemulihan kualitas air. Sungai-sungai itu terdiri atas 10 sungai besar lintas provinsi, yakni:
- Sungai Ciliwung; Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan DAS seluas 97.151 ha.
- Sungai Cisadane; Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan DAS seluas 151.283 ha
- Sungai Citanduy; Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan DAS seluas 69.554 ha
- Sungai Bengawan Solo; Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan DAS seluas 1.779.070 ha.
- Sungai Progo; Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan DAS seluas 18.097 ha
- Sungai Kampar; Provinsi Sumatera Barat dan Riau dengan DAS seluas 2.516.882 ha
- Sungai Batanghari; Provinsi Sumatera Barat dan Jambi dengan DAS seluas 4.426.004 ha
- Sungai Musi; Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan dengan DAS seluas 5.812.303 ha
- Sungai Barito; Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan DAS seluas 6.396.011 ha.
- Sungai Mamasa (Saddang); Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan dengan DAS seluas 846.898 ha.
Selain pada 10 sungai lintas provinsi juga pada 3 sungai strategis nasional, yaitu:
- Sungai Citarum; Provinsi Jawa Barat dengan DAS seluas 562.958 ha.
- Sungai Siak; Provinsi Riau dengan DAS seluas 1.061.577 ha.
- Sungai Brantas; Provinsi Jawa Timur dengan Daerah Aliran Sungai seluas 1.553.235 ha.
Semoga kedepannya, Daerah Aliran Sungai yang kita punyai semakin berkurang kerusakannya dan membaik kondisinya sehingga 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai di Indonesia tidak lagi mendatangkan bencana buat kita semua. Justru sebaliknya, sungai-sungai tersebut membawa manfaat dan kesejahteraan buat seluruh rakyat Indonesia.
Referensi: Buku Status Lingkungan Hidup Indonesia 2009; www.mediaindonesia.com (gambar)
BERTINDAKLAH DENGAN BERGABUNG WALK FOR WATER
Latar belakang walk for water
“Jalan untuk air” merupakan bagian acara yang diakui PBB dan masyarakat dunia sebagai bentuk kepedulian atas krisis air di dunia. Jutaan warga dunia masih mengalami krisis air dimana jutaan keluarga membutuhkan air bersih sebagai kelansungan hidup . Berawal dari isu isu dunia dimana banyak sekali saudara kita yang belum mendapatkan kemudahan akses air bersih. Masih banyak kita melihat saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang masih kesulitan dalam mencari sumber air bersih. Kesulitan akses air bersih banyak dipengaruhi beberapa factor diantaranya sumber air yang tidak ada, ketiadaan fasilitas atau sarana air bersih yang belum terbangun membuat mereka harus berjalan ribuan meter hanya untuk mendapatkan air bagi kelangsungan hidupnya. Disamping itu air erat sekali kaitannya dengan sanitasi sehingga keduanya menjadi masalah utama yang memang harus diperhatikan .
Di abad ini walaupun kita mengenal era kemajuan zaman di berbagai bidang, tidak menutup kemungkinan kekurangan air bersih menjadi momok menakutkan bagi penduduk di dunia. Terlebih masalah air yang ada di perkotaan rentan sekali dengan pencemaran baik dari limbah industri pabrik , limbah rumah tangga yang dalam pengelolaanya masih dibiarkan saja.Inilah sebabnya krisis air tidak hanya menjadi masalah bagi masyarakat yang kurang beruntung mendapatkan akses ini akan tetapi menjadi masalah global yang harus ditangani bersama.
Untuk itu aksi sosial walk for water merupakan bagian event dari grebeg air.Dimana acara ini adalah gerakan sosial sebagai bentuk kepedulian untuk masyarakat dunia yang mengalami krisis air. Setiap bentuk dukunganmu akan menjadi senjata bagi kita semua untuk mendesak pemerintahan dunia supaya lebih memperhatikan nasib saudara saudara kita dan dapat memberikan / mengupayakan kondisi yang lebih baik.
Bagaimana cara bergabungnya?
Datang saja!!!Acara ini akan dimulai tepat pukul 07.00 WIB pada hari minggu tanggal 20 maret 2011. Sehingga dukungan komunitas, masyarakat secara keseluruhan dapat berpartisipasi dan bergabung dengan tim Grebeg air untuk menunjukkan rasa simpati . Untuk itu Tugu Yogyakarta menjadi pilihan sebagai awal mulai start perjalanan ini, karena tugu sebagai symbol jogja mengisyaratkan bahwa masyarakat jogja pada khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya mendukung gerakan ini sebagai bentuk kepedulian bersama .
Dengan format acara bersama- sama kumpul di Tugu Yogyakarta kemudian mulai berjalan dengan membawa replika toilet untuk diusung bersama sama. Dan disertai bentangan kain putih puluhan meter sebagai ekor memanjang untuk mengajak masyarakat gabung berjalan bersama hingga berhenti di titik nol kilometer. Selama perjalanan water for city diharapkan masyarakat yang berada disekitar areal itu mau ikut serta bergabung dalam barisan membentuk barisan memanjang. Hingga sampai garis terakhir akan disambut dengan acara Grebeg Air .
Mari tunjukkan Kepedulianmu dengan bersama sama walk for water
Separuh Penduduk Dunia Kekurangan Air Bersih pada Tahun 2050
Bertepatan dengan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar The Fifth Water World Forum yang diikuti oleh sejumlah pejabat beserta para ahli. Forum ini bertujuan untuk menemukan langkah terbaik dalam pengelolaan air dunia serta menerbitkan sebuah dokumen yang berisikan permasalahan air, kependudukan dan perubahan iklim. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB (Silaban, 2009).
Hal tersebut kemudian menitikberatkan pemilihan tema Clean Water Quality Challenges and Opportunity sebagai tema global Hari Air Dunia tahun 2010. Kualitas air kini telah menjadi isu global yang menuntut tindakan serba cepat dari siapa saja yang peduli terhadap prediksi kesulitan air bersih di tahun 2050. Setiap harinya jutaan ton sampah dan limbah industri dan pertanian tak terolah dengan baik dibuang ke saluran air di seluruh dunia. Setiap tahunnya danau, sungai dan delta menerima beban setara dengan seluruh populasi manusia di dunia, yakni sekitar 7 Milyar jiwa. Setiap tahunnya, semakin banyak orang yang meninggal sebagai konsekuensi dari unsafe water dan dampak terbesar menimpa balita.
![]() |
Kekeringan di Pakistan (sumber : nationalgeographic.com) |
Selama 50 tahun terakhir, konsumsi air bersih meningkat sebanyak tiga kali dan permintaannya meningkat sebanyak 64 juta m3 per tahun. Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dunia sebesar 80 juta jiwa per tahunnya, perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi, produksi biofuel yang meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan (1000 – 4000 liter air untuk menghasilkan 1 liter biofuel) serta peningkatan permintaan energi yang berimplikasi terhadap permintaan air (www.worldometers.info).
Permintaan terhadap air bersih meningkat seiring dengan pertumbuhan perindustrian, pertanian sistem irigasi dan peningkatan standard kehidupan layak (ciri-ciri negara berkembang). Ditambah persediaan air bagi manusia telah menyusut seiring dengan peningkatan jumlah sumber air bersih yang terpolusi, danau dan sungai telah menjadi tempat penyimpanan berbagai macam limbah, termasuk buangan sisa aktivitas perkantoran yang hanya terolah sebagian maupun tidak terolah, saluran pembuangan limbah beracun dari daerah industri, serta bahan-bahan kimia berbahaya yang larut dalam air permukaan maupun airtanah akibat aktivitas pertanian (info.k4health.org).
Kondisi rumit yang mempertemukan ketersediaan air bersih serta peningkatan permintaan terhadap air bersih itu sendiri telah memberikan pilihan yang sulit pada negara-negara berkembang. Perkembangan bukannya tidak membutuhkan pengorbanan dalam pencapaiannya. Namun apakah pengorbanan itu sesuai dengan konsekuensi yang harus dihadapi? Separuh penduduk dunia diprediksikan mengalami sulitnya mengakses air bersih. Kitakah salah satunya
Separuh Penduduk Dunia Kekurangan Air Bersih pada Tahun 2050
Bertepatan dengan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar The Fifth Water World Forum yang diikuti oleh sejumlah pejabat beserta para ahli. Forum ini bertujuan untuk menemukan langkah terbaik dalam pengelolaan air dunia serta menerbitkan sebuah dokumen yang berisikan permasalahan air, kependudukan dan perubahan iklim. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB (Silaban, 2009).
Hal tersebut kemudian menitikberatkan pemilihan tema Clean Water Quality Challenges and Opportunity sebagai tema global Hari Air Dunia tahun 2010. Kualitas air kini telah menjadi isu global yang menuntut tindakan serba cepat dari siapa saja yang peduli terhadap prediksi kesulitan air bersih di tahun 2050. Setiap harinya jutaan ton sampah dan limbah industri dan pertanian tak terolah dengan baik dibuang ke saluran air di seluruh dunia. Setiap tahunnya danau, sungai dan delta menerima beban setara dengan seluruh populasi manusia di dunia, yakni sekitar 7 Milyar jiwa. Setiap tahunnya, semakin banyak orang yang meninggal sebagai konsekuensi dari unsafe water dan dampak terbesar menimpa balita.
![]() |
Kekeringan di Pakistan (sumber : nationalgeographic.com) |
Selama 50 tahun terakhir, konsumsi air bersih meningkat sebanyak tiga kali dan permintaannya meningkat sebanyak 64 juta m3 per tahun. Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dunia sebesar 80 juta jiwa per tahunnya, perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi, produksi biofuel yang meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan (1000 – 4000 liter air untuk menghasilkan 1 liter biofuel) serta peningkatan permintaan energi yang berimplikasi terhadap permintaan air (www.worldometers.info).
Permintaan terhadap air bersih meningkat seiring dengan pertumbuhan perindustrian, pertanian sistem irigasi dan peningkatan standard kehidupan layak (ciri-ciri negara berkembang). Ditambah persediaan air bagi manusia telah menyusut seiring dengan peningkatan jumlah sumber air bersih yang terpolusi, danau dan sungai telah menjadi tempat penyimpanan berbagai macam limbah, termasuk buangan sisa aktivitas perkantoran yang hanya terolah sebagian maupun tidak terolah, saluran pembuangan limbah beracun dari daerah industri, serta bahan-bahan kimia berbahaya yang larut dalam air permukaan maupun airtanah akibat aktivitas pertanian (info.k4health.org).
Kondisi rumit yang mempertemukan ketersediaan air bersih serta peningkatan permintaan terhadap air bersih itu sendiri telah memberikan pilihan yang sulit pada negara-negara berkembang. Perkembangan bukannya tidak membutuhkan pengorbanan dalam pencapaiannya. Namun apakah pengorbanan itu sesuai dengan konsekuensi yang harus dihadapi? Separuh penduduk dunia diprediksikan mengalami sulitnya mengakses air bersih. Kitakah salah satunya
Separuh Penduduk Dunia Kekurangan Air Bersih pada Tahun 2050
Bertepatan dengan Hari Air Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar The Fifth Water World Forum yang diikuti oleh sejumlah pejabat beserta para ahli. Forum ini bertujuan untuk menemukan langkah terbaik dalam pengelolaan air dunia serta menerbitkan sebuah dokumen yang berisikan permasalahan air, kependudukan dan perubahan iklim. Sebuah laporan PBB setebal 348 halaman, memberikan gambaran yang suram tentang kondisi lingkungan khususnya ketersediaan air pada tahun 2050. Laporan itu disiapkan oleh sebuah tim berdasarkan kompilasi dari 24 lembaga/badan organisasi PBB (Silaban, 2009).
Hal tersebut kemudian menitikberatkan pemilihan tema Clean Water Quality Challenges and Opportunity sebagai tema global Hari Air Dunia tahun 2010. Kualitas air kini telah menjadi isu global yang menuntut tindakan serba cepat dari siapa saja yang peduli terhadap prediksi kesulitan air bersih di tahun 2050. Setiap harinya jutaan ton sampah dan limbah industri dan pertanian tak terolah dengan baik dibuang ke saluran air di seluruh dunia. Setiap tahunnya danau, sungai dan delta menerima beban setara dengan seluruh populasi manusia di dunia, yakni sekitar 7 Milyar jiwa. Setiap tahunnya, semakin banyak orang yang meninggal sebagai konsekuensi dari unsafe water dan dampak terbesar menimpa balita.
![]() |
Kekeringan di Pakistan (sumber : nationalgeographic.com) |
Selama 50 tahun terakhir, konsumsi air bersih meningkat sebanyak tiga kali dan permintaannya meningkat sebanyak 64 juta m3 per tahun. Ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dunia sebesar 80 juta jiwa per tahunnya, perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi, produksi biofuel yang meningkat tajam pada tahun-tahun belakangan (1000 – 4000 liter air untuk menghasilkan 1 liter biofuel) serta peningkatan permintaan energi yang berimplikasi terhadap permintaan air (www.worldometers.info).
Permintaan terhadap air bersih meningkat seiring dengan pertumbuhan perindustrian, pertanian sistem irigasi dan peningkatan standard kehidupan layak (ciri-ciri negara berkembang). Ditambah persediaan air bagi manusia telah menyusut seiring dengan peningkatan jumlah sumber air bersih yang terpolusi, danau dan sungai telah menjadi tempat penyimpanan berbagai macam limbah, termasuk buangan sisa aktivitas perkantoran yang hanya terolah sebagian maupun tidak terolah, saluran pembuangan limbah beracun dari daerah industri, serta bahan-bahan kimia berbahaya yang larut dalam air permukaan maupun airtanah akibat aktivitas pertanian (info.k4health.org).
Kondisi rumit yang mempertemukan ketersediaan air bersih serta peningkatan permintaan terhadap air bersih itu sendiri telah memberikan pilihan yang sulit pada negara-negara berkembang. Perkembangan bukannya tidak membutuhkan pengorbanan dalam pencapaiannya. Namun apakah pengorbanan itu sesuai dengan konsekuensi yang harus dihadapi? Separuh penduduk dunia diprediksikan mengalami sulitnya mengakses air bersih. Kitakah salah satunya
Sulitnya Mendapatkan Air Bersih di Jakarta; Cerita Dari Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara
Bagi sebagian besar warga Jakarta, mengandalkan air perpipaan untuk kebutuhan sehari-hari bisa jadi merupakan kesalahan besar (dalam catatan BPS 2010, hanya 25% warga Jakarta yang mendapat akses layanan air perpipaan). Pasokan air yang tidak kontinyu, dan kualitas air yang buruk, menjadikan banyak warga tidak percaya terhadap air perpipaan. Sebagian warga yang mampu, banyak menggunakan air tanah sebagai sumber kehidupan mereka sehari-hari, itupun dengan catatan air tanah yang ada masih cukup layak untuk dikonsumsi. Jikapun tidak, mereka akan mencari sumber alternatif lain termasuk air kemasan.
Namun kondisi yang berbeda dihadapi oleh masyarakat kurang mampu yang kebanyakan juga tinggal di daerah kumuh. Muara Baru misalnya, sumur disana sangatlah terkontaminasi oleh limbah dan air laut, hingga warga yang bermukim di salah satu kawasan termiskin Jakarta Utara ini terpaksa mencari air ditempat lain. Ironisnya kelompok yang paling menderita dengan situasi ini adalah kelompok perempuan. Sebagian besar warga Muara baru hidup di pemukiman ilegal, kampung-kampung yang ditolak untuk dipasangi instalasi perpipaan oleh operator swasta. Anehnya, ada saja orang-orang kuat yang bisa mengatur sambungan ilegal, jangan tanya bagaimana caranya, seorang toke yang memiliki sambungan dari PALYJA bisa melayani hingga seratus rumah tangga dengan selang temporer.
Mbak Sinta (32 tahun), seorang ibu rumah tangga dan guru, bercerita bahwa untuk memenuhi kebutuhan air selama dua hari, warga bergantian memakai selang air yang digunakan untuk memenuhi tong-tong air. Setiap kali mengisi waktunya dibatasi hanya 20 menit. ”Kami harus membayar Rp.80.000,” kata Shinta, “ Padahal beberapa minggu yang lalu harganya masih RP.65.000 untuk 30 menit pemakaian, sekarang jadi Rp.80.000. Katanya karena harga dari PALYJA sudah naik”,lanjutnya.
Ada juga warga Muara Baru yang memiliki meter air pipa, sehingga seharusnya mereka bisa aman dalam mengakses air bersih. Namun air tersebut tidak pernah mengalir, dan warga tersebut harus menanggung biaya beban karena memiliki sambungan, tetapi juga harus membeli air di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Direksi PDAM Tirtanadi janji akan perbaiki kinerja
MEDAN: Direksi PDAM Tirtanadi yang baru dilantik berjanji akan memperbaiki kinerja hingga 5 tahun ke depan.
Janji ini akhirnya disampaikan Dirut PDAM Tirtanadi Azzam Rizal bersama jajarannya Direktur Akutansi dan Keuangan Ahmad Thamrin serta Direktur Produksi Perencanaan Tamsil Lubis, usai dikritik kinerjanya yang buruk saat rapat dengar pendapat Komisi C DPRD Sumut, hari ini.
Dalam rapat tersebut terungkap bahwa buruknya kinerja PDAM Tirtanadi dilihat dari besarnya hutang perusahaan monopoli air minum milik Pemprovsu, yakni mencapai Rp192 miliar. Sementara dana segar yang dimiliki hanya berkisar Rp40 miliar.
Menurut Dirut PDAM Tirtanadi Azzam Rizal, besarnya dana operasional yang mencapai Rp300 miliar sementara tingkat tunggakan juga tinggi mengakibatkan pihaknya kesulitan. Terutama biaya rekening listrik kepada PLN yang mencapai Rp4 miliar per bulan, karena selama ini PDAM Tirtanadi dimasukkan dalam kategori tarif 13 atau industri besar, sementara pihaknya adalah perusahaan pelayanan masyarakat (public service).
Azzam Rizal juga mengakui selama ini banyak keluhan dari pelanggan khususnya di wilayah Medan dan sekitarnya tentang buruknya aliran air dan kadang berwarna keruh.
Hal ini katanya disebabkan pihaknya tidak mampu mengalirkan air dengan normal pada kebutuhan air hari maksimum yang mencapai 4800 meter kubik per detik, terutama yang ada di kota Medan dan sekitarnya yang mencapai 363.083 pelanggan. Namun jika untuk kebutuhan rata-rata yakni 4420 meter kubik per detik masih bisa ditalangi.
Anggota Komisi C dari Fraksi PKS Hidayatullah menekankan kepada direksi yang baru dilantik agar tidak mengulang kinerja buruk PDAM Tirtanadi di periode lalu. Dimana tingkat kebocoran air (loose) mencapai lebih dari 20%. Di sisi lain, pasokan untuk pelanggan yang ada sudah tidak maksimal kini tuntutan kebutuhan pemasangan baru semakin tinggi seiring semakin berkembangnya properti di Medan dan sekitarnya khususnya.
"PDAM Tirtanadi merupakan perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, jadi jangan main-main," tukasnya.
Menolak Pembangunan Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng
PT Semen Gresik, sebuah perusahaan produsen semen terbesar di Indonesia berencana untuk membangun pabrik baru di Pegunungan Kendeng yang terletak di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Perusahaan ini sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (51.01%), Blue Valley Holdings PTE Ltd (anak perusahaan Rajawali Group) (24.90%), dan publik (24.09%). Pembangunan pabrik baru ini dimaksudkan guna meningkatkan kapasitas produksi tahunan dengan lebih dari 16 juta ton semen (senilai lebih dari 10 trilyun rupiah, atau lebih dari 900 juta USD) yang menjangkau lebih dari 45% pasar dalam negeri. Demi mengejar target tersebut, PT.Semen Gresik telah mengalokasikan dana sebesar 340 USD untuk pembangunan pabrik.
Rencana kegiatan penambangan dilakukan seluas 2000 ha. yang berada di 13 desa kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo dan pendirian pabrik semen (pengolahan) seluas 75 ha berikut infrastrukturnya dengan kapasitas produksi 2,5 juta ton/tahun dengan tingkat kebutuhan listrik kurang lebih 110-140 kWh/ton. Buangan yang diperkirakan selama proses pengolehan batu kapur menjadi semen adalah buangan padat (tailing), debu dengann radius 2-3 km mengandung (CaO, SiO3, Al2SO4, FeO2), limbah cair yang mengandung minyak lubrikasi dan pelumas, dan gas (CO2, SOx, NOx).
Selain data hasil penelitian yang menyatakan bahwa kawasan pegunungan Kendeng adalah wilayah KARS yang merupakan sumber resapan dan penyimpanan air alami, penolakan yang dilakukan KRuHA dan JPABK didasarkan pada: (1) Krisis air yang sedang mengancam Pulau Jawa, (2) Rendahnya keberpihakan negara atas upaya “Menjamin dan Melindungi” Hak Rakyat Atas Air dan lemahnya posisi tawar masyarakat terhadap koorporasi, utamanya industri ekstraktif yang berpotensi merusak lingkungan dan menghancurkan sumber air. Puluhan mata air terancam hilang jika pabrik semen ini jadi dibangun.
RPP Hak Guna Air Mengancam Realisasi Hak Atas Air
Pemerintah Indonesia, melalui Departemen Pekerjaan Umum (PU) saat ini sedang menyusun Rancangan Peraturan Perundangan (RPP) Hak Guna Air. RPP ini merupakan turunan dari UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air. Menilik kembali ke belakang, UU Sumberdaya Air merupakan salah satu UU yang disusun melalui pinjaman program Bank Dunia (Water Resources Sector Adjustment Loan) sebesar US$ 300 juta. UU ini juga didasari atas cara pandang baru terhadap air, yaitu air sebagai barang ekonomi yang mendorong terjadinya komersialisasi, komodifikasi dan privatisasi air. Sebagai turunan, tentu saja air sebagai barang ekonomi menjadi landasan utama dalam menyusun RPP Hak Guna Air.
Hak guna air, merupakan salah satu implikasi dari cara pandang air sebagai barang ekonomi dan juga merupakan turunan dari water right yang didasarkan atas tradisi hukum property right. Dengan pemahaman seperti ini, kepemilikan individu atas air menjadi dibenarkan. Water right juga akan menempatkan air sebagai barang exclusive dan bisa dimonopoli oleh sekelompok orang atau individu serta menuntut negara untuk menjamin hak memperoleh air, mengakui secara hukum, dan melindungi pemegang hak guna air. Pemahaman ini tentu saja berbeda dengan Hak Atas Air, yang didasarkan atas air sebagai hak asasi manusia. Sebagai hak asasi manusia, maka air bersifat inclusive, tidak bisa dimonopoli oleh sekelompok orang atau individu, dan negara memiliki kewajiban untuk melindungi, memenuhi, dan memajukan, tersedianya air bagi seluruh rakyatnya.
Di dalam naskah RPP Hak Guna Air, berbagai pola dan mekanisme penetapan Hak Guna maupun konsekuensi pemegang hak dalam wujud sertifikat, mengacu dan terinspirasi pada pola penetapan hak yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam Hak Atas Tanah. Padahal, ada perbedaan secara jelas tentang kondisi fisik dan pola pemanfaatan antara air dan tanah. Dalam sistem pertanahan, negara telah menjamin hak pemanfaatan berdasarkan tujuan pemanfaatan dan telah terkodifikasi dalam undang-undang yang ada serta lembaga yang menanganinya. Sedangkan sumber daya air, sistem pengelolaan dan alokasi sangat tidak jelas sehingga hal tersebut akan semakin mendorong munculnya konflik antara individu, kelompok masyarakat, maupun egoisme Daerah dari pedesaan sampai tingkat Nasional.
Selain itu, ketidakjelasan alokasi pemanfaatan air, sertifikasi penggunaan air dan kewenangan pengelolaan air, menjadi bukti ketidaksiapan Pemerintah dalam menjalankan tanggung jawab pengaturan sumber daya air, Beberapa hal tersebut secara langsung dapat memicu terjadinya konflik yang bersumber pada sumber daya air. Lebih jauh, ketidakjelasan pemegang otoritas dalam pengelolaan sumber daya air dan wadah koordinasi serta lembaga resolusi konflik baik di tingkat nasional maupun daerah, akan semakin memperbesar kemungkinan terjadinya konflik berkepanjangan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air, belum lagi lembaga-lembaga yang diberikan mandat untuk menyelesaikan jika terjadi konflik atas air adalah lembaga-lembaga yang tidak dapat diakses oleh masyarakat secara mudah dan langsung karena bersifat sentralistik.
RPP ini juga lebih mementingkan upaya-upaya untuk melakukan eksploitasi air, sehingga konservasi sebagai bagian penting dari keberlanjutan ketersediaan air menjadi diabaikan. Partisipasi masyarakat juga diabaikan. RPP ini juga dikhawatirkan akan memfasilitasi upaya-upaya komersialiasi dan privatisasi sumberdaya air melalui pemberian hak guna usaha tanpa batasan waktu.
Terkait dengan berbagai persoalan tersebut di atas, Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA) memandang RPP Hak Guna Air tidak layak untuk dijadikan peraturan dalam pengelolaan sumberdaya air. Oleh karenanya KRuHA menuntut kepada pemerintah (Departemen Pekerjaan Umum) untuk :
1. Menghentikan proses pembahasan RPP Hak Guna Air
2. Menyusun kembali peraturan yang didasarkan atas prinsip air sebagai hak asasi manusia
Manajemen PDAM Tirtanadi Harus Tingkatkan Pelayanan
MEDAN : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara meminta manajemen baru Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi meningkatkan pelayanan kepada pelanggan yang selama ini cenderung belum masksimal.
Permintaan itu disampaikan jajaran Komisi C DPRD Sumut pada rapat dengar pendapat dengan manajemen baru PDAM Tirtanadi di Medan, Rabu (16/03).”Pembenahan manajemen perusahaan dan peningkatan pelayanan kepada pelanggan dan calon pelanggan menjadi sebuah keharusan sekaligus menjadi perhatian utama manajemen baru,” ujar Ketua Komisi C DPRD Sumut H Eddi Rangkuti ketika memimpin rapat tersebut.
Hadir pada rapat itu Direktur Utama PDAM Tirtanadi Azzam Rizal, Direktur Operasional Mangindang Ritonga, Direktur Administrasi dan Keuangan Ahmad Thamrin dan Direktur Perencanaan dan Produksi Tamsil Lubis. Sementara jajaran Komisi C yang hadir di antaranya wakil ketua Mustofawiyah serta anggota Hj Meilizar Latif dan Muslim Simbolon.”Direksi yang baru perlu memperhatikan struktur kepegawaian di perusahaan yang cenderung ‘gendut’. Agak banyak pegawai utamanya di level menengah dan ini harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Eddi Rangkuti juga menyarankan manajemen baru melakukan pemetaan pegawai guna menghindari biaya tinggi sehingga struktur keuangan seimbang dengan produksi dan pelayanan, apalagi Tirtanadi masih memiliki kewajiban utang kepada Kementerian Keuangan. “Bagaimana ke depan kewajiban bisa dilunasi jika ‘overhead cost’ (biaya tinggi) terus-terusan muncul. Selain itu, manajemen juga harus mampu menekan tingkat kebocoran pasokan air yang saat ini mencapai 24 persen,” katanya.
Anggota Komisi C Muslim Simbolon menambahkan, peningkat pelayanan PDAM Tirtanadi harus benar-benar dapat dirasakan masyarakat. Sejalan dengan itu, BUMD itu juga harus terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi. “PDAM Tirtanadi juga diharapkan segera memberi kontribusi bagi PAD (pendapatan asli daerah,” ujar politisi PAN itu.
Sementara Wakil Ketua Komisi C Mustofawiyah berpendapat, jika memungkinkan status PDAM Tirtanadi sebaiknya diubah menjadi perseroan terbatas (PT) agar dapat lebih didorong untuk menhasilkan keuntungan. “Seperti Bank Sumut yang kondisianya kini menjadi lebih baik setelah menjadi PT dan mampu memberi PAD berupa dividen bagi Pemprov Sumut dalam jumlah yang cukup signifikan,” katanya.
Dirut PDAM Tirtanadi Azzam Rizal menyambut baik saran dan masukan dari jajaran Komisi C DPRD Sumut. Dia memastikan manajemen baru akan bekerja lebih serius membenahi perusahaan sekaligus meningkatkan pelayanan.
Perihal pelayanan termasuk menyangkut sambungan baru air minum, ia mengakui belum dapat dilakukan dengan maksimal karena kapasitas produksi belum memungkinkan. Saat ini, jumlah pelanggan mencapai 402.617 sambungan, dimana 363.083 di antaranya berada di zona I (Medan dan sekitarnya) dan 39.534 pelanggan di zona 2 atau di daerah kerja sama operasional.
Sementara jumlah pelanggan yang menunggu sambungan baru pada 2011 tercatat mencapai 14.505 sambungan, dimana 12.216 di antaranya berada di zona 1 dan 2.289 sambungan di zona 2. “Tapi kami akan upayakan agar kapasitias produksi bisa digenjot lagi. Dalam hal ini kami perlunya dukungan Komisi C,” ujarnya.
Permintaan itu disampaikan jajaran Komisi C DPRD Sumut pada rapat dengar pendapat dengan manajemen baru PDAM Tirtanadi di Medan, Rabu (16/03).”Pembenahan manajemen perusahaan dan peningkatan pelayanan kepada pelanggan dan calon pelanggan menjadi sebuah keharusan sekaligus menjadi perhatian utama manajemen baru,” ujar Ketua Komisi C DPRD Sumut H Eddi Rangkuti ketika memimpin rapat tersebut.
Hadir pada rapat itu Direktur Utama PDAM Tirtanadi Azzam Rizal, Direktur Operasional Mangindang Ritonga, Direktur Administrasi dan Keuangan Ahmad Thamrin dan Direktur Perencanaan dan Produksi Tamsil Lubis. Sementara jajaran Komisi C yang hadir di antaranya wakil ketua Mustofawiyah serta anggota Hj Meilizar Latif dan Muslim Simbolon.”Direksi yang baru perlu memperhatikan struktur kepegawaian di perusahaan yang cenderung ‘gendut’. Agak banyak pegawai utamanya di level menengah dan ini harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Eddi Rangkuti juga menyarankan manajemen baru melakukan pemetaan pegawai guna menghindari biaya tinggi sehingga struktur keuangan seimbang dengan produksi dan pelayanan, apalagi Tirtanadi masih memiliki kewajiban utang kepada Kementerian Keuangan. “Bagaimana ke depan kewajiban bisa dilunasi jika ‘overhead cost’ (biaya tinggi) terus-terusan muncul. Selain itu, manajemen juga harus mampu menekan tingkat kebocoran pasokan air yang saat ini mencapai 24 persen,” katanya.
Anggota Komisi C Muslim Simbolon menambahkan, peningkat pelayanan PDAM Tirtanadi harus benar-benar dapat dirasakan masyarakat. Sejalan dengan itu, BUMD itu juga harus terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi. “PDAM Tirtanadi juga diharapkan segera memberi kontribusi bagi PAD (pendapatan asli daerah,” ujar politisi PAN itu.
Sementara Wakil Ketua Komisi C Mustofawiyah berpendapat, jika memungkinkan status PDAM Tirtanadi sebaiknya diubah menjadi perseroan terbatas (PT) agar dapat lebih didorong untuk menhasilkan keuntungan. “Seperti Bank Sumut yang kondisianya kini menjadi lebih baik setelah menjadi PT dan mampu memberi PAD berupa dividen bagi Pemprov Sumut dalam jumlah yang cukup signifikan,” katanya.
Dirut PDAM Tirtanadi Azzam Rizal menyambut baik saran dan masukan dari jajaran Komisi C DPRD Sumut. Dia memastikan manajemen baru akan bekerja lebih serius membenahi perusahaan sekaligus meningkatkan pelayanan.
Perihal pelayanan termasuk menyangkut sambungan baru air minum, ia mengakui belum dapat dilakukan dengan maksimal karena kapasitas produksi belum memungkinkan. Saat ini, jumlah pelanggan mencapai 402.617 sambungan, dimana 363.083 di antaranya berada di zona I (Medan dan sekitarnya) dan 39.534 pelanggan di zona 2 atau di daerah kerja sama operasional.
Sementara jumlah pelanggan yang menunggu sambungan baru pada 2011 tercatat mencapai 14.505 sambungan, dimana 12.216 di antaranya berada di zona 1 dan 2.289 sambungan di zona 2. “Tapi kami akan upayakan agar kapasitias produksi bisa digenjot lagi. Dalam hal ini kami perlunya dukungan Komisi C,” ujarnya.
jalan kawasan pegunungan Tangse-Geumpang yang menghubungkan Kabupaten Pidie, dan Aceh Barat via Tangse itu longsor diterjang banjir bandang
Longsor
Warga melintasi jalan yang mengalami longsor di ruas jalan Tangse-Geumpang Kamis (17/3).Enam titik ruas jalan kawasan pegunungan Tangse-Geumpang yang menghubungkan Kabupaten Pidie, dan Aceh Barat via Tangse itu longsor diterjang banjir bandang Kamis (10/3) mengakibatkan jalur dua kabupaten tersebut lumpuh total untuk dua bulan kedepan.Pengalihan Hutang untuk Konservasi Hutan Sumatera
Jakarta, - Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Mr. Scot Marciel, pada 24 Februari 2011 akan menghadiri penandatanganan Perjanjian Penerimaan Hibah antara Yayasan KEHATI, selaku administrator Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) dengan para mitra LSM yang akan menjalankan kegiatan-kegiatan pelestarian hutan Sumatera.
Acara ini merupakan penanda dimulainya aktifitas program TFCA-Sumatera bersama para mitranya dilapangan dengan hibah sebesar Rp. 24,2 milyar untuk lima mitra LSM selama 2-3 tahun. Lima mitra penerima hibah pertama dari TFCA-Sumatera tersebut adalah Yayasan Leuser International (YLI), Institut Green Aceh (IGA), Perkumpulan Prakarsa Pengembangan Partisipasi untuk Rakyat dan Bina Keterampilan Pedesaan(Petra-Bitra), Komunitas Konservasi Indonesia (WARSI) dan Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (JIKALAHARI).Sumatera menjadi prioritas karena Sumatera memiliki tekanan terhadap deforestasi yang sangat tinggi, lebih tinggi dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Program-program yang akan dilaksanakan meliputi perlindungan kawasan, pengelolaan kawasan, penguatan kebijakan hingga penguatan masyarakat disusulkan sebagai program yang mendesak untuk dilaksanakan.
Negosiasi program Pengalihan Hutang untuk Lingkungan (Debt for Nature-SwapDNS) antara pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat sudah dimulai sejak tahun 1990. DNS digunakan untuk memperoleh pelunasan hutang dengan mengalihkan pembayarannya pada kegiatan pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Perjanjian program tersebut diarahkan untuk mendukung konservasi hutan di Sumatera dan telah ditandatangani pada 30 Juni 2009 melalui penghapusan utang pokok Negara sebesar US$ 19,6 juta dalam jangka waktu 8 tahun. Dana hibah tersebut dikelola oleh Komite Pengawas (Oversight Committee) yang terdiri dari 4 anggota tetap yaitu Kementerian Kehutanan (Ditjen PHKA), USAID, CI, KEHATI dan 3 anggota tidak tetap yang terdiri dari Transparasi Internasional Indonesia, Business Link dan Universitas Syiah Kuala.
Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Masyhud, Kepala Pusat Humas Kehutanan Kementerian Kehutanan.
Acara ini merupakan penanda dimulainya aktifitas program TFCA-Sumatera bersama para mitranya dilapangan dengan hibah sebesar Rp. 24,2 milyar untuk lima mitra LSM selama 2-3 tahun. Lima mitra penerima hibah pertama dari TFCA-Sumatera tersebut adalah Yayasan Leuser International (YLI), Institut Green Aceh (IGA), Perkumpulan Prakarsa Pengembangan Partisipasi untuk Rakyat dan Bina Keterampilan Pedesaan(Petra-Bitra), Komunitas Konservasi Indonesia (WARSI) dan Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (JIKALAHARI).Sumatera menjadi prioritas karena Sumatera memiliki tekanan terhadap deforestasi yang sangat tinggi, lebih tinggi dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Program-program yang akan dilaksanakan meliputi perlindungan kawasan, pengelolaan kawasan, penguatan kebijakan hingga penguatan masyarakat disusulkan sebagai program yang mendesak untuk dilaksanakan.
Negosiasi program Pengalihan Hutang untuk Lingkungan (Debt for Nature-SwapDNS) antara pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat sudah dimulai sejak tahun 1990. DNS digunakan untuk memperoleh pelunasan hutang dengan mengalihkan pembayarannya pada kegiatan pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Perjanjian program tersebut diarahkan untuk mendukung konservasi hutan di Sumatera dan telah ditandatangani pada 30 Juni 2009 melalui penghapusan utang pokok Negara sebesar US$ 19,6 juta dalam jangka waktu 8 tahun. Dana hibah tersebut dikelola oleh Komite Pengawas (Oversight Committee) yang terdiri dari 4 anggota tetap yaitu Kementerian Kehutanan (Ditjen PHKA), USAID, CI, KEHATI dan 3 anggota tidak tetap yang terdiri dari Transparasi Internasional Indonesia, Business Link dan Universitas Syiah Kuala.
Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Masyhud, Kepala Pusat Humas Kehutanan Kementerian Kehutanan.
Pengerukan Pasir dihentikan Balai Konservasi
Bengkulu - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bengkulu menghentikan sementara pembangunan alur masuk pelabuhan batu bara di muara Sungai Seblat, Bengkulu Utara, karena merupakan kawasan konservasi.
"Alur masuk ke pelabuhan itu merupakan kawasan konservasi, sehingga pengerukan pasir di bagian hilir jembatan Seblat itu dihentikan sementara," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora, Jumat.
Tumpukan pasir pada alur muara Sungai Seblat berfungsi sebagai pengamanan jembatan di jalan nasional dan tidak boleh dikeruk, apalagi kawasan itu masuk kawasan konservasi.
Ia mengatakan, aktivitas pengerukan yang dilakukan suatu perusahaan swasta itu sudah berlangsung sepekan.
"Kami sudah mendapat instruksi dari pusat untuk menutup kegiatan tersebut karena akan merusak kawasan konservasi," katanya.
BKSDA mengemukakan bagian atas muara Sungai Seblat merupakan kawasan konservasi yang sempat dibuka perusahaan perkebunan kelapa sawit namun sekarang sudah dihijaukan kembali.
Keberadaan ribuan meter kubik pasir pada alur sungai itu harus dilindungi karena merupakan salah satu pondasi jembatan Seblat yang terpanjang di Provinsi Bengkulu dan menghubungkan jalan nasional antarprovinsi.
"Alur masuk ke pelabuhan itu merupakan kawasan konservasi, sehingga pengerukan pasir di bagian hilir jembatan Seblat itu dihentikan sementara," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora, Jumat.
Tumpukan pasir pada alur muara Sungai Seblat berfungsi sebagai pengamanan jembatan di jalan nasional dan tidak boleh dikeruk, apalagi kawasan itu masuk kawasan konservasi.
Ia mengatakan, aktivitas pengerukan yang dilakukan suatu perusahaan swasta itu sudah berlangsung sepekan.
"Kami sudah mendapat instruksi dari pusat untuk menutup kegiatan tersebut karena akan merusak kawasan konservasi," katanya.
BKSDA mengemukakan bagian atas muara Sungai Seblat merupakan kawasan konservasi yang sempat dibuka perusahaan perkebunan kelapa sawit namun sekarang sudah dihijaukan kembali.
Keberadaan ribuan meter kubik pasir pada alur sungai itu harus dilindungi karena merupakan salah satu pondasi jembatan Seblat yang terpanjang di Provinsi Bengkulu dan menghubungkan jalan nasional antarprovinsi.
Targetkan Bangun 150 Km Jalan
MUARA BULIAN, - Bupati Batanghari, Abdul Fattah mengatakan, keterbatasan dan kerusakan infrastruktur, terutama jalan dan jembatan di Kabupaten Batanghari ditenggarai sebagai penyebab rendahnya nilai tukar komoditas pertanian. Biaya tinggi yang dikeluarkan para pelaku bisnis untuk mengangkut hasil pertanian dari Batanghari membuat harga yang diterima petani menjadi lebih kecil.
Abdul Fattah menyebutkan hal itu pada Pembukaan Musrenbang tingkat kabupaten yang dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Bupati Batanghari, Kamis (17/3). Dikatakannya, kerusakan infrastruktur jalan berdampak besar bagi perekonomian Batanghari terutama sektor perkebunan.
Sebagian besar penduduk Batanghari bekerja disektor pertanian dan perkebunan. Kalau jalan yang dilalui saat mengangkut hasil panen mereka tidak bagus atau sudah rusak, harga dari komoditi yang dihasilkan oleh petani otomatis akan berkurang. Artinya ini mengganggu ekonomi kita,” kata bupati.
Ia menyebut untuk meningkatkan nilai tukar petani itu, maka perbaikan dan pembangunan infrastrukur menjadi hal yang mutlak, sebab petani tidak akan pernah mendapatkan harga yang bagus selama jalan di Batanghari masih rusak. Kita harus segera perbaiki jalan yang ada sekarang dan membangun jalan di daerah- daerah produksi pertanian,” ujarnya.
Dalam tiga atau empat tahun kedepan, ia menargetkan bisa membangun jalan sepanjang 150 kilometer. Semua jalan itu berada di daerah-daerah yang menjadi sentra produksi perkebunan. Saya targetkan minimal tahun 2014 sudah terbangun jalan sepanjang 150 kilometer,” ungkapnya.
Jalan yang dibangun itu, tambahnya, tidak boleh lagi seperti jalan yang dibangun selama ini, yang masih menggunakan aspal goreng dan lebarnya tidak sampai lima meter. Semuanya harus aspal hotmix, agar mulus dan tahan lama. Lebarnya juga minimal lima meter,” jelasnya.
Kepala Bappeda Provinsi Jambi, Fauzi Ansori mengatakan nilai tukar petani selama ini masih dibawah 100 persen, kecuali sub sektor peternakan. Hal itu menunjukkan petani sesungguhnya masih rugi. Untuk mencapai titik impas, nilai tukarnya adalah 100 persen.
Menurut Fauzi, perhatian pada sektor pertanian dan sektor pendukung pertanian seperti infrastruktur jalan harus menjadi prioritas, karena berdasarkan data yang mereka punya, 60 persen penduduk Jambi bekerja pada sektor pertanian. Petani butuh jalan yang bagus untuk menjual hasil panen,” ucapnya.
Kabupaten Batanghari, tambahn Fauzi, sesungguhnya kabupaten yang mempunyai kekayaan alam yang sangat besar. Seperti hasil curd palm oil (CPO), katanya, dari 1,5 juta ton CPO yang dihasilkan di Provinsi Jambi tahun lalu, 30 persen diantaranya berasal dari panen kelapa sawit yang ada Batanghari.
Namun daya saingnya akhirnya menjadi rendah karena infrastruktur yang kurang bagus. Jalan Provinsi yang masih bagus tinggal 27 persen, sedangkan yang rusak berat mencapai 42 persen. Kami sangat mendukung upaya bupati untuk membangun infrastruktur jalan, karena itu sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan ekonomi kita,” sebutnya.
Abdul Fattah menyebutkan hal itu pada Pembukaan Musrenbang tingkat kabupaten yang dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Bupati Batanghari, Kamis (17/3). Dikatakannya, kerusakan infrastruktur jalan berdampak besar bagi perekonomian Batanghari terutama sektor perkebunan.
Sebagian besar penduduk Batanghari bekerja disektor pertanian dan perkebunan. Kalau jalan yang dilalui saat mengangkut hasil panen mereka tidak bagus atau sudah rusak, harga dari komoditi yang dihasilkan oleh petani otomatis akan berkurang. Artinya ini mengganggu ekonomi kita,” kata bupati.
Ia menyebut untuk meningkatkan nilai tukar petani itu, maka perbaikan dan pembangunan infrastrukur menjadi hal yang mutlak, sebab petani tidak akan pernah mendapatkan harga yang bagus selama jalan di Batanghari masih rusak. Kita harus segera perbaiki jalan yang ada sekarang dan membangun jalan di daerah- daerah produksi pertanian,” ujarnya.
Dalam tiga atau empat tahun kedepan, ia menargetkan bisa membangun jalan sepanjang 150 kilometer. Semua jalan itu berada di daerah-daerah yang menjadi sentra produksi perkebunan. Saya targetkan minimal tahun 2014 sudah terbangun jalan sepanjang 150 kilometer,” ungkapnya.
Jalan yang dibangun itu, tambahnya, tidak boleh lagi seperti jalan yang dibangun selama ini, yang masih menggunakan aspal goreng dan lebarnya tidak sampai lima meter. Semuanya harus aspal hotmix, agar mulus dan tahan lama. Lebarnya juga minimal lima meter,” jelasnya.
Kepala Bappeda Provinsi Jambi, Fauzi Ansori mengatakan nilai tukar petani selama ini masih dibawah 100 persen, kecuali sub sektor peternakan. Hal itu menunjukkan petani sesungguhnya masih rugi. Untuk mencapai titik impas, nilai tukarnya adalah 100 persen.
Menurut Fauzi, perhatian pada sektor pertanian dan sektor pendukung pertanian seperti infrastruktur jalan harus menjadi prioritas, karena berdasarkan data yang mereka punya, 60 persen penduduk Jambi bekerja pada sektor pertanian. Petani butuh jalan yang bagus untuk menjual hasil panen,” ucapnya.
Kabupaten Batanghari, tambahn Fauzi, sesungguhnya kabupaten yang mempunyai kekayaan alam yang sangat besar. Seperti hasil curd palm oil (CPO), katanya, dari 1,5 juta ton CPO yang dihasilkan di Provinsi Jambi tahun lalu, 30 persen diantaranya berasal dari panen kelapa sawit yang ada Batanghari.
Namun daya saingnya akhirnya menjadi rendah karena infrastruktur yang kurang bagus. Jalan Provinsi yang masih bagus tinggal 27 persen, sedangkan yang rusak berat mencapai 42 persen. Kami sangat mendukung upaya bupati untuk membangun infrastruktur jalan, karena itu sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan ekonomi kita,” sebutnya.
Kamis, 03 Maret 2011
Mengubah Air Tercemar Menjadi Air Bersih
Saat bencana terjadi, kelangkaan air bersih tentunya menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Pada kondisi ini banyak sumber air yang mengalami pencemaran. Lalu bagaimana caranya mengolah air bersih yang terkena pencemaran?
Dilansir dari Webhealthcentre, Jumat (5/11/2010), pemurnian air yang banyak dilakukan ada tiga tahap, yaitu penyimpanan, filtrasi dan klorinasi. Tapi sepertinya tiga tahap ini belum cukup untuk benar-benar memurnikan air yang tercemar.
Berikut beberapaa cara lain untuk mengurangi bahaya pencemaran air baik secara biologis maupun kimiawi:
1. Penyaringan dan perebusan
Meski tampak bersih, air yang akan diminum harus disaring dan direbus hingga mendidih setidaknya selama 5-10 menit. Hal ini dapat membunuh bakteri, spora, ova, kista dan mensterilkan air. Proses ini juga menghilangkan karbon dioksida dan pengendapan kalsium karbonat.
2. Disinfeksi kimia
Hal ini berguna untuk memurnikan air yang disimpan pada tempat seperti di genangan air, tangki atau air sumur.
3. Bubuk pemutih
Proses ini merupakan diklorinasi kapur. 2,3 gram bubuk pemutih diperlukan untuk mendisinfeksi 1 meter kubik (1.000 liter) air. Tapi air yang sangat tercemar dan keruh tidak bisa dimurnikan dengan metode ini.
Bubuk pemutih merupakan senyawa tidak stabil dengan bau yang menyengat. Ketika senyawa ini terkena udara, cahaya atau kelembaban, maka senyawa ini akan cepat kehilangan kadar klorin, sehingga menjadi tidak efektif.
4. Tablet klorin
Dipasaran, tablet klorin dijual dengan nama tablet halazone. Senyawa ini mungkin cukup mahal tetapi efektif untuk memurnikan air dengan skala kecil.
Tablet klorin ‘smarter’ telah diperkenalkan baru-baru ini. Tablet klorin ini 15-20 kali lebih kuat dari tablet halogen. Satu pil 0.5 gms, cukup untuk mendisinfeksi 20 liter air.
5. Filter
Ada beberapa jenis filter, antara lain filter keramik ‘lilin’ dan UV filter.
Bagian utama dari sebuah filter keramik ‘lilin’ ini adalah lilin yang terbuat dari porselin atau tanah infusorial. Permukaannya dilapisi dengan katalis perak sehingga bakteri yang masuk ke dalam akan dibunuh. Metode ini menghilangkan bakteri yang biasanya ditemukan dalam minum air, tetapi tidak efektif dengan virus yang bisa lolos saringan.
Alat UV filter umumnya terdiri dari prefilter, yaitu filter kotoran fisik. Kartrid karbon menghilangkan air dari kotoran organik yang berwarna, bau, bebas klorin dan lainnya. Sedangkan berkas sinar UV berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan virus.
Dua pertiga dari berat tubuh manusia adalah air. Hal ini membuat manusia mampu bertahan hidup tanpa makanan selama tiga minggu, tetapi tidak mungkin hidup tanpa air selama lebih dari tiga hari.
Kondisi air yang dikategorikan aman dan sehat dikonsumsi adalah jernih, tak berwarna, tak berbau, tak berasa, bebas dari Penyakit yang mengandung mikroorgansime dan bebas zat kimia berbahaya.
Dengan adanya bencana alam tentunya membuat banyak sumber mata air bersih tercemar, baik karena bahaya biologis (seperti virus, bakteri atau cacing) maupun bahaya kimia (seperti deterjen, pelarut, sianida, logam berat, asam mineral dan organik, senyawa nitrogen, sulfida, amoniak dan senyawa organik beracun biosidal varietas besar).
Bahaya biologis dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti:
Kondisi air yang dikategorikan aman dan sehat dikonsumsi adalah jernih, tak berwarna, tak berbau, tak berasa, bebas dari Penyakit yang mengandung mikroorgansime dan bebas zat kimia berbahaya.
Dengan adanya bencana alam tentunya membuat banyak sumber mata air bersih tercemar, baik karena bahaya biologis (seperti virus, bakteri atau cacing) maupun bahaya kimia (seperti deterjen, pelarut, sianida, logam berat, asam mineral dan organik, senyawa nitrogen, sulfida, amoniak dan senyawa organik beracun biosidal varietas besar).
Bahaya biologis dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti:
- Diare
- Infeksi cacing
- Disentri (baik amuba dan bakteri)
- Kolera
- Masalah lambung
- Penyakit Tipus
- Penyakit kuning
Sedangkan bahaya kimia dapat menyebabkan masalah kesehatan sebagai berikut:
- Infeksi kulit
- Gangguan usus
- Gangguan hati, tulang dan sistem peredaran darah, kelahiran anomali
- Anemia, kerusakan sumsum tulang, leukemia
- Kerusakan sistem saraf pusat
- Masalah karsinogenik
Dilansir dari Webhealthcentre, Jumat (5/11/2010), pemurnian air yang banyak dilakukan ada tiga tahap, yaitu penyimpanan, filtrasi dan klorinasi. Tapi sepertinya tiga tahap ini belum cukup untuk benar-benar memurnikan air yang tercemar.
Berikut beberapaa cara lain untuk mengurangi bahaya pencemaran air baik secara biologis maupun kimiawi:
1. Penyaringan dan perebusan
Meski tampak bersih, air yang akan diminum harus disaring dan direbus hingga mendidih setidaknya selama 5-10 menit. Hal ini dapat membunuh bakteri, spora, ova, kista dan mensterilkan air. Proses ini juga menghilangkan karbon dioksida dan pengendapan kalsium karbonat.
2. Disinfeksi kimia
Hal ini berguna untuk memurnikan air yang disimpan pada tempat seperti di genangan air, tangki atau air sumur.
3. Bubuk pemutih
Proses ini merupakan diklorinasi kapur. 2,3 gram bubuk pemutih diperlukan untuk mendisinfeksi 1 meter kubik (1.000 liter) air. Tapi air yang sangat tercemar dan keruh tidak bisa dimurnikan dengan metode ini.
Bubuk pemutih merupakan senyawa tidak stabil dengan bau yang menyengat. Ketika senyawa ini terkena udara, cahaya atau kelembaban, maka senyawa ini akan cepat kehilangan kadar klorin, sehingga menjadi tidak efektif.
4. Tablet klorin
Dipasaran, tablet klorin dijual dengan nama tablet halazone. Senyawa ini mungkin cukup mahal tetapi efektif untuk memurnikan air dengan skala kecil.
Tablet klorin ‘smarter’ telah diperkenalkan baru-baru ini. Tablet klorin ini 15-20 kali lebih kuat dari tablet halogen. Satu pil 0.5 gms, cukup untuk mendisinfeksi 20 liter air.
5. Filter
Ada beberapa jenis filter, antara lain filter keramik ‘lilin’ dan UV filter.
Bagian utama dari sebuah filter keramik ‘lilin’ ini adalah lilin yang terbuat dari porselin atau tanah infusorial. Permukaannya dilapisi dengan katalis perak sehingga bakteri yang masuk ke dalam akan dibunuh. Metode ini menghilangkan bakteri yang biasanya ditemukan dalam minum air, tetapi tidak efektif dengan virus yang bisa lolos saringan.
Alat UV filter umumnya terdiri dari prefilter, yaitu filter kotoran fisik. Kartrid karbon menghilangkan air dari kotoran organik yang berwarna, bau, bebas klorin dan lainnya. Sedangkan berkas sinar UV berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan virus.
Langganan:
Postingan (Atom)